JAKARTA, AFU.ID — Pagar besi setinggi sekitar 2,5 meter yang sempat dipasang di bagian depan Mal Kota Kasablanka atau Kokas, Jakarta Selatan, telah dibongkar. Pembongkaran dilakukan setelah Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyoroti pemasangan pagar tinggi di sejumlah mal karena dinilai dapat membentuk kesan Jakarta sedang tidak aman. Area depan Kokas kini kembali seperti sebelum pagar tersebut dibangun.
Pantauan di lokasi pada Minggu (2/8/26) menunjukkan pagar besi sepanjang sekitar 100 meter sudah tidak terlihat. Bekas fondasi tiang pagar masih ditemukan di sejumlah titik, sedangkan pengunjung kembali beraktivitas seperti biasa. Pagar sebelumnya dipasang dari sekitar pintu masuk kendaraan hingga mendekati akses keluar menuju Jalan Raya Casablanca.
Pendiri Pakuwon Group Alexander Tedja mengatakan pemasangan pagar tersebut merupakan keputusan manajemen lokal. Menurutnya, kebijakan itu tidak berasal dari pemegang saham maupun kantor pusat. Ia sebelumnya memastikan pagar akan segera dibongkar.
“Itu kebijakan manajemen lokal dan akan segera dibongkar,” kata Alexander dalam keterangan tertulis, Minggu (2/8/26). Pakuwon juga menyatakan properti lain milik perusahaan akan ditata sesuai ketentuan yang berlaku. Langkah tersebut disebut dilakukan agar pemasangan fasilitas tidak menimbulkan persepsi yang keliru di masyarakat.
Sehari sebelumnya, Pramono mengatakan pagar yang dipasang secara berlebihan dapat membangun citra bahwa Jakarta sedang dalam kondisi tidak aman. Ia meminta pengelola mal, gedung perkantoran, dan pemilik properti tidak menjadikan pagar tinggi sebagai bentuk pengamanan yang berlebihan. Pemprov DKI akan berkoordinasi untuk menertibkan pemasangan pagar tersebut.
“Jangan sampai kemudian ini menjadi image bahwa Jakarta sedang tidak baik-baik saja,” kata Pramono. Ia menyatakan telah berkoordinasi dengan aparat keamanan dan penegak hukum mengenai situasi di Ibu Kota. Berdasarkan koordinasi tersebut, Pramono menyebut kondisi Jakarta masih aman dan kondusif.
Pramono juga mengakui belum ada aturan yang secara khusus mengatur batas ketinggian pagar mal maupun gedung perkantoran. Namun, menurutnya, pagar yang terlalu tinggi dapat mengganggu kenyamanan dan estetika perkotaan. Ia menginginkan bangunan di Jakarta lebih terbuka dengan memperbanyak ruang hijau dan mengurangi penggunaan pagar yang menjulang.
Pemasangan pagar Kokas sebelumnya ramai dibicarakan setelah sejumlah mal di Jakarta dan Surabaya memasang pagar serupa. Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia Alphonzus Widjaja mengatakan pagar digunakan untuk mengatur arus keluar masuk pengunjung. Ia juga mengakui pagar dapat berfungsi sebagai batas pengamanan bagi pusat perbelanjaan yang berada di sekitar lokasi demonstrasi.
Polri menyatakan tidak ada gangguan keamanan menonjol yang menjadi alasan masyarakat harus khawatir. Asisten Utama Kapolri Bidang Operasi Komjen Fadil Imran meminta masyarakat tidak mengartikan pemasangan pagar sebagai tanda akan terjadi gangguan keamanan. Menurutnya, situasi keamanan dan ketertiban masyarakat masih dalam kondisi kondusif.
Hingga berita ini ditulis, manajemen lokal Kota Kasablanka belum memberikan penjelasan langsung mengenai alasan awal pembangunan pagar tersebut. Belum dijelaskan pula siapa yang memutuskan pemasangan maupun biaya yang dikeluarkan untuk membangun dan membongkarnya. Keterangan yang tersedia baru berasal dari pendiri Pakuwon Group yang menyebut pemasangan merupakan inisiatif manajemen lokal. (RHU)