JAKARTA AFU.ID — Kebakaran kembali melanda permukiman padat di Kebon Kosong, Kemayoran, Jakarta Pusat, Senin (1/6/2026). Peristiwa ini kembali menimbulkan sorotan terhadap kesiapan infrastruktur pemadam kebakaran di wilayah tersebut.
Insiden tersebut membuat puluhan rumah hangus dan ratusan warga kehilangan tempat tinggal dalam waktu singkat. Kondisi ini memperkuat desakan agar pemerintah daerah segera melakukan evaluasi menyeluruh.
Anggota DPRD DKI Jakarta, Kevin Wu, menilai kebakaran berulang di kawasan itu menunjukkan lemahnya antisipasi kebencanaan. Ia meminta Pemprov DKI segera memperkuat fasilitas pemadam di wilayah rawan.
“Ini bukan pertama kalinya Kebon Kosong mengalami kebakaran besar. Pada awal tahun lalu, kebakaran juga pernah terjadi di sini,” kata Kevin Wu, Rabu, (3/6)
Menurut Kevin, sistem proteksi kebakaran seperti hidran air dan APAR harus diperbanyak di kawasan padat penduduk. Ia juga menekankan pentingnya akses mobil pemadam agar lebih mudah menjangkau lokasi.
“Pemprov DKI harusnya sudah bisa mengantisipasi kejadian itu di wilayah yang memang rentan,” ujarnya.
Ia juga mendorong penerapan program “Satu RT Satu APAR” secara merata di seluruh wilayah rawan. Selain itu, evaluasi infrastruktur dinilai penting untuk mencegah kejadian serupa.
“Ketika kawasan ini dibangun kembali, sistem pengendalian kebakaran harus diperbaiki. Hidran air perlu dipasang di titik-titik yang rawan,” kata Kevin.
Sementara itu, laporan di lapangan menunjukkan minimnya fasilitas pemadam di lokasi kejadian. Kondisi ini memperburuk proses penanganan kebakaran yang terjadi pada malam hari.
Di sekitar lokasi kejadian, hanya terdapat satu titik alat pemadam kebakaran. Titik itu pun dilaporkan tidak berfungsi dengan baik saat kejadian berlangsung.
“Alat pemadam kebakaran di kawasan permukiman padat penduduk di Kemayoran masih sangat minim,” ujar Kevin.
Petugas Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) Kebon Kosong, Catur Heriyanto, mengatakan hanya ada satu hidran di wilayah tersebut. Namun, fasilitas itu sudah dalam kondisi rusak sejak lama dan tidak dapat digunakan.
“Waktu saya awal menjadi satgas tidak bisa mengeluarkan air. Sekarang kondisinya rusak akibat orang yang tidak bertanggung jawab,” ujar Catur.
Ia menambahkan bahwa perbaikan fasilitas tersebut berada di luar kewenangannya sebagai petugas lapangan. Temuan itu hanya dapat dilaporkan ke pimpinan untuk ditindaklanjuti. “Intinya saya hanya melaporkan,” tutur Catur.
Sementara itu, Gulkarmat Jakarta Pusat mencatat sebanyak 620 jiwa dari 330 kepala keluarga terdampak kebakaran tersebut. Data ini menunjukkan dampak besar yang ditimbulkan dari peristiwa berulang di kawasan padat penduduk itu. (ANT/RAI)