JAKARTA AFU.ID — Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno menawarkan hunian rumah susun (rusun) kepada warga yang terdampak kebakaran di kawasan Pasar Jiung, Kemayoran, Jakarta Pusat.
Tawaran tersebut disampaikan saat Rano meninjau lokasi kebakaran pada Selasa (2/6/2026). Namun, sebagian warga mengaku enggan meninggalkan kawasan tempat mereka tinggal sejak lama.
Menurut Rano, permukiman yang terbakar berdiri di atas lahan milik Sekretariat Negara (Setneg). Karena itu, pemerintah mencoba menawarkan alternatif hunian yang dinilai lebih layak bagi warga terdampak.
Saat berdialog dengan warga, Rano mengaku mendengar langsung alasan penolakan tersebut. Banyak warga merasa memiliki ikatan emosional yang kuat dengan lingkungan tempat tinggal mereka.
"Tadi saya ngomong dengan beberapa warga, 'nggak mau coba di rumah susun?' Aduh Bang, kita lahir di sini, Bang, bahkan yang namanya ari-ari kita ditanam di sini," ujar Rano menirukan percakapan dengan warga.
Meski demikian, Rano menilai tinggal di rumah susun dapat memberikan kualitas hidup yang lebih baik dibandingkan menetap di kawasan permukiman padat dan rawan kebakaran.
“Kita selalu berusaha untuk menyadarkan masyarakat bahwa bukan berarti tidak layak, tapi mungkin kalau tinggal di rumah susun jauh lebih layak,” katanya.
Berdasarkan data sementara, kebakaran yang melanda kawasan Pasar Jiung berdampak pada 304 bangunan. Sebanyak 354 kepala keluarga atau 679 jiwa tercatat menjadi korban terdampak.
Jumlah tersebut terdiri dari 326 laki-laki dan 353 perempuan. Di antara mereka terdapat puluhan lansia, balita, anak usia sekolah, remaja, hingga ibu hamil.
Untuk membantu para korban, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyiapkan sejumlah fasilitas di lokasi pengungsian yang berada di Lapangan Yusuf Hamka. Bantuan logistik dan kebutuhan dasar terus disalurkan kepada warga.
Selain itu, Pemprov DKI juga memberikan perhatian khusus kepada anak-anak sekolah yang terdampak kebakaran. Banyak di antara mereka kehilangan buku, seragam, dan perlengkapan belajar karena hangus terbakar.
Rano memastikan para siswa yang tidak dapat mengikuti ujian akibat musibah tersebut akan mendapatkan kesempatan mengikuti ujian susulan. Kebijakan itu telah dikoordinasikan dengan Dinas Pendidikan DKI Jakarta.
“Enggak Pak, nanti bisa menyusul. Itu kebijakan,” kata Rano menirukan penjelasan yang diterimanya dari Dinas Pendidikan terkait pelaksanaan ujian bagi siswa korban kebakaran.
Di samping bantuan pendidikan, pemerintah juga membuka layanan pemulihan psikologis bagi warga terdampak. Posko trauma healing disiapkan terutama untuk membantu anak-anak yang mengalami tekanan akibat kebakaran.
Pemprov DKI Jakarta juga memfasilitasi pengurusan dokumen kependudukan yang hilang atau terbakar. Warga diminta segera melapor agar dokumen penting seperti KTP dan kartu keluarga dapat diterbitkan kembali. (ANT/RAI)