AFU.id

Karhutla di Kalsel Meningkat, Infrastruktur Darurat Dikerahkan Percepat Penanganan

Bagikan:

Penulis: Adriyan Adirizky RahmatReporter: Adriyan Adirizky R

Ringkasan Berita

Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) meningkatkan infrastruktur dan kesiapsiagaan dalam menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meningkat selama musim kemarau 2026, dengan mencatat 2.141 titik panas dan 381 kejadian karhutla. Langkah ini mencakup penguatan Satuan Tugas El Nino, optimalisasi jaringan irigasi, serta penyiagaan truk tangki air berkapasitas total 12.000 liter untuk mendukung pemadaman darurat. Sinergi antara pemerintah pusat, daerah, TNI, Polri, dan pemangku kepentingan lainnya dianggap krusial untuk menekan dampak kebakaran terhadap masyarakat dan lingkungan.

Karhutla di Kalsel Meningkat, Infrastruktur Darurat Dikerahkan Percepat Penanganan
Penanganan karhutla di Kalsel. (Foto: Kementerian PU RI)

Karhutla di Kalsel Diperkuat dengan Dukungan Sarana Pemadaman

Penanganan karhutla di Kalsel juga melalui penyiagaan tiga unit truk tangki air berkapasitas masing-masing 4.000 liter, yang membuat total kapasitas air siap pakai mencapai 12.000 liter. Armada itu ditempatkan di Posko BPBD Provinsi Kalsel, BPBD Kota Banjarbaru, dan BPBD Kabupaten Banjar untuk mendukung operasi pemadaman darurat. Penempatan sarana itu bertujuan agar pendistribusian bantuan dapat menjangkau wilayah prioritas secara lebih cepat.

BPBPK Provinsi Kalsel menegaskan, keberhasilan pengendalian kebakaran sangat bergantung pada sinergi antarlembaga dan kecepatan respons di lapangan. Dukungan sarana pemadaman akan terus menysesuaikan dengan perkembangan situasi agar kebutuhan operasi tetap terpenuhi. Kolaborasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), dan seluruh pemangku kepentingan menjadi faktor penting dalam menekan perluasan kebakaran.

Penguatan infrastruktur menunjukkan, penanganan karhutla di Kalsel sangat bergantung pada proses pemadaman, kesiapan logistik, dan koordinasi lintas instansi. Semakin cepat dukungan sarana tersedia di lokasi terdampak, semakin besar peluang menekan luas kebakaran. Termasuk, mengurangi risiko terhadap keselamatan masyarakat dan kerusakan lingkungan selama musim kemarau 2026. (ADR)

Berita Terkait

Pilihan Redaksi