JAKARTA, AFU.ID — Kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Aceh Barat, Aceh, terus meluas setelah dua pekan penanganan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah Aceh Barat mencatat luas lahan terbakar kini mencapai 34,1 hektare.
Pelaksana Tugas Kepala BPBD Aceh Barat, Teuku Ronal, mengatakan sebagian besar titik api telah berhasil dipadamkan. Namun, kebakaran masih menyisakan kerusakan vegetasi dan kabut asap yang mulai mengganggu warga sekitar.
Sebaran kebakaran paling luas berada di Kecamatan Bubon. Di wilayah itu, lahan terbakar tercatat 15 hektare di Gampong Berawang dan 10 hektare di Gampong Kuta Padang Layung.
Kebakaran juga melanda Gampong Cot Seumeurueng, Kecamatan Samatiga, seluas empat hektare. Titik lain berada di Gampong Ujong Tanoh Darat, Kecamatan Meureubo, dengan luas 2,6 hektare.
Di Kecamatan Johan Pahlawan, kebakaran terjadi di Gampong Lapang seluas satu hektare dan Gampong Seunebok seluas 0,5 hektare. Sementara itu, satu hektare lahan ikut terbakar di Gampong Gunung Pulo, Kecamatan Arongan Lambalek.
Teuku Ronal menyebut operasi pemadaman berlangsung maraton sejak 31 Mei 2026. Penanganan dilakukan melalui jalur darat dan diperkuat bantuan udara dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana.
Petugas masih menghadapi hambatan di lapangan karena angin kencang dan asap tebal mengganggu jarak pandang. Akses menuju sebagian titik api juga sulit dijangkau kendaraan roda empat.
BPBD Aceh Barat menurunkan dua mobil dobel kabin, satu Panther Pick-Up, satu motor trail, dan tiga mesin pompa air. Pemadaman juga dibantu armada pemadam, pompa air milik warga, serta personel gabungan.
Unsur yang terlibat meliputi BPBD, Kodim 0105 Aceh Barat, kepolisian, Pos Damkar Woyla, Kesatuan Pengelolaan Hutan IV, Universitas Teuku Umar, dan masyarakat setempat. Mereka masih berjaga untuk mencegah api kembali meluas.
Kabut asap akibat kebakaran mulai mengganggu pernapasan warga di sekitar lokasi. Kondisi cuaca kering juga membuat api berisiko kembali menyebar jika tidak segera disekat.
BPBD Aceh Barat meminta warga tidak membuka lahan dengan cara membakar. Peringatan itu penting karena kebakaran yang berulang menunjukkan pengawasan lahan kering masih menjadi titik lemah penanganan Karhutla. (RHU)