Moda Angkutan Udara Naik, Tapi…
Kontras dengan jalur maritim, jalur udara justru menjadi tumpuan utama dengan sumbangan 889,46 ribu kunjungan wisman.
“Naik 4,06 persen dibandingkan April 2025 (Y-on-Y) dan naik 24,08 persen dibandingkan dengan Maret 2026 (M-to-M),” tutur Harmawanti Marhaeni.
Kendati demikian, angka tersebut tetap membawa catatan kritis mengenai ketimpangan spasial yang akut.
Bandara Ngurah Rai (Bali) dan Soekarno-Hatta (Banten/Jakarta) menyerap 87,78% dari total wisman yang menggunakan moda angkutan udara, atau setara dengan 780,79 ribu kunjungan wisman.
Konsentrasi yang terpusat tersebut menegaskan, program diversifikasi destinasi unggulan, seperti ‘10 Bali Baru’ masih belum mampu memecah dominasi magnet tradisional, meninggalkan bandara-bandara internasional daerah lainnya beroperasi di bawah kapasitas optimalnya.
Data BPS menunjukkan fluktuasi pergerakan wisman yang sebenarnya mencapai total 1,25 juta kunjungan secara keseluruhan pada April 2026.
Yang mana, sekaligus menandai capaian kumulatif tertinggi pariwisata internasional Indonesia sejak era pandemi Covid-19 tahun 2020.
“Jumlah tersebut mengalami peningkatan sebesar 14,75 persen bila dibandingkan bulan sebelumnya (M-to-M) dan naik 7,22 persen dibandingkan April 2025 (Y-on-Y),” ujar Harmawanti Marhaeni.
Hanya saja, pencapaian rekor tersebut menyisakan pekerjaan rumah besar terkait ketidakseimbangan infrastruktur penunjang antarmoda dan antarwilayah.
Dampak jangka panjang dari ketimpangan sebaran pariwisata tersebut berpotensi memicu fenomena overtourism di Bali dan Jakarta.
Sehingga, sangat berisiko merusak daya dukung lingkungan, sosial, dan infrastruktur lokal di kedua wilayah tersebut.
Di sisi lain, daerah-daerah potensial di luar Jawa dan Bali mengalami pemborosan investasi infrastruktur karena bandara maupun pelabuhan internasionalnya sepi peminat.
Kegagalan menggerakkan jalur maritim di kawasan segitiga pertumbuhan, seperti Kepulauan Riau dan Riau juga mencederai potensi devisa dari wisata lintas batas (border tourism) jangka pendek yang berputar cepat.
Jika tata kelola interkoneksi antarmoda dan pemerataan promosi destinasi alternatif tak terbenahi secara agresif, maka narasi kebangkitan pariwisata nasional akan tetap menjadi narasi yang bias wilayah. (ADR)































