JAKARTA, AFU.ID — Laut menjadi panggung bagi setiap negara untuk saling berebut pengaruh di tengah geopolitik global yang kian memanas.
Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia menduduki titik vital yang menentukan arah stabilitas dan arus perdagangan global.
Melansir website Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia (KKP RI) pada Sabtu (23/5/2026), pemerintah telah menyusun strategi maritim untuk mengendalikan jalur logistik laut dunia.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BPPSDM KP) KKP RI, I Nyoman Radiarta menyampaikan bahwa penguatan sumber daya manusia (SDM) menjadi pondasi utama dalam transformasi strategi kemaritiman.
I Nyoman Radiarta menegaskan, kebijakan maupun pembangunan infrastruktur tak cukup untuk menjawab tantangan geopolitik dunia.
Menurutnya, SDM andal yang mempunyai wawasan global, adaptif, dan mampu membaca perubahan merupakan salah satu solusi terbaik.
“Strategi kemaritiman bukan hanya soal menjaga laut, tapi bagaimana kita memanfaatkannya untuk memperkuat ketahanan pangan, ekonomi, dan posisi tawar Indonesia di dunia,” ungkap I Nyoman Radiarta.
KKP RI pun mendorong pendekatan pembangunan berbasis ekonomi biru yang mengintegrasikan aspek keberlanjutan, kesejahteraan masyarakat, dan daya saing global.
Program kampung nelayan modern, pengembangan budi daya terintegrasi, dan penguatan konektivitas maritim menjadi langkah konkret menghadapi disrupsi global.
I Nyoman Radiarta juga menyatakan, pendidikan vokasi kelautan dan perikanan harus bertransformasi agar selaras dengan dinamika industri modern.
“Kita tidak hanya menyiapkan tenaga kerja, tetapi mencetak pelaku utama pembangunan maritim yang mampu menciptakan nilai tambah dan menjaga keberlanjutan sumber daya,” tuturnya.
Sementara itu, Sakti Wahyu Trenggono selaku Menteri KKP RI mengarahkan agar pengelolaan laut berkelanjutan menjadi kunci kekuatan sektor kelautan.
SDM unggul akan menjadi penggerak utama dalam mengelola ruang ekonomi maritim secara lestari dan berdaya saing.
Di sisi lain, Mantan Kepala Staf Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL), Laksamana TNI (Purn) Marsetio, mengingatkan bahwa kawasan Indo-Pasifik kini menjadi episentrum ketegangan.
Eskalasi global seperti konflik Laut China Selatan berdampak langsung terhadap stabilitas ekonomi serta keamanan maritim dunia.
Marsetio menjelaskan, wilayah Selat Malaka menghadapi tantangan kepadatan lalu lintas pelayaran yang sangat tinggi.
Indonesia memiliki posisi tawar tinggi karena menguasai titik jalur sempit distribusi logistik dan energi global.
Ia menilai, kondisi geopolitik maritim dan menegaskan peran penting negara melalui kutipan berikut.
“Indonesia bukan hanya penonton dalam geopolitik maritim, tetapi penentu keseimbangan,” ujarnya. (ADR)