JAKARTA, AFU.ID - Aparat keamanan gabungan TNI dan Polri bergerak cepat mengendalikan situasi di Kota Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, pascaaksi penembakan yang melukai warga sipil di kawasan penyelenggaraan Festival Budaya Lembah Baliem (FBLB) ke-34 pada Sabtu (8/8/2026). Peristiwa penyerangan menggunakan senjata api tersebut terjadi sekitar pukul 12.45 WIT ketika sebuah kendaraan warga yang hendak memasuki pintu gerbang kawasan festival di Kampung Walesi, Distrik Walesi, mendadak dihujani tembakan dari arah perbukitan Kali Uwe di sebelah kanan lokasi.
Dua warga sipil bernama Laode Muhammad Ojo (43) dan Salbia (50) menjadi korban luka tembak dalam peristiwa itu, tetapi kondisi keduanya dilaporkan stabil usai mendapat penanganan medis intensif di RSUD Wamena. Guna mempersempit ruang gerak para pelaku dan mencegah jatuhnya korban susulan, pihak kepolisian menyarankan Pemerintah Kabupaten Jayawijaya untuk menghentikan sisa rangkaian FBLB yang sedianya berlangsung selama dua hari pada 7-8 Agustus 2026.
Pihak Polda Papua memastikan situasi kamtibmas di Wamena telah berhasil dikuasai dan terkover oleh personel gabungan Polres Jayawijaya, Batalyon B Sat Brimob, serta jajaran TNI. Tim gabungan saat ini mengamankan lokasi, melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), hingga menggelar operasi penyisiran serta penyekatan jalur-jalur evakuasi untuk memburu kelompok penembak.
Aksi teror ini kembali mencetuskan pertanyaan publik mengenai tingkat kerawanan wilayah Lembah Baliem terhadap ancaman Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB). Secara historis dan geografis, wilayah pegunungan tengah Papua—termasuk Lembah Baliem dan Wamena sebagai episentrumnya—merupakan salah satu wilayah yang rentan terhadap dinamika pergerakan faksi-faksi KKB atau Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB).
Lembah Baliem dikelilingi topografi perbukitan terjal dan hutan lebat yang menghubungkan Jayawijaya dengan kabupaten-kabupaten rawan konflik di sekitarnya, seperti Nduga, Lanny Jaya, Puncak, dan Yahukimo, sehingga area ini kerap dimanfaatkan sebagai jalur lintasan, tempat persembunyian, maupun lokasi aksi oportunistik oleh kelompok bersenjata.
Mengenai faksi yang bertanggung jawab dalam penembakan di FBLB 2026, aparat keamanan menegaskan proses penyelidikan masih terus berjalan dan belum menentukan faksi mana yang mengeksekusi serangan. Danrem 172/PWY Brigjen TNI Robbi Suryadi menjelaskan bahwa fokus utama petugas saat kejadian adalah menyeleksi dan mengamankan warga di sekitar lokasi festival.
"Aparat keamanan langsung berupaya mengamankan warga yang berada di sekitar tempat pelaksanaan FBLB-2026, sehingga belum bisa memastikan pelaku penembakan berasal dari kelompok mana," tegas Robbi.
Meski begitu, area pegunungan tengah umumnya berada dalam jangkauan pengaruh beberapa faksi utama TPNPB, seperti faksi pimpinan Egianus Kogoya (Kodap III Ndugama) maupun faksi-faksi komando wilayah yang beroperasi di sepanjang koridor Lanny Jaya dan Yahukimo. Aksi penembakan ini menambah deretan rekam jejak gangguan keamanan di Lembah Baliem dan sekitarnya.
Wilayah Wamena dan koridor perbukitan Baliem pernah mengalami rentetan insiden penembakan serius, seperti kasus penembakan pekerja proyek jalan di perbatasan Nduga-Jayawijaya pada akhir 2018, penembakan pos-pos keamanan di jalur perbatasan distrik, hingga aksi pencegatan kendaraan sipil di jalan lintas antar-kabupaten. Selain itu kawasan tersebut juga merupakan kawasan yang rawan terjadinya perang antar suku.
Penembakan pada ajang FBLB 2026—yang nota bene merupakan ajang promosi pariwisata dan kebudayaan tahunan—menunjukkan bahwa kelompok bersenjata masih memanfaatkan momen keramaian publik di wilayah Lembah Baliem untuk melancarkan penyerangan. (MAR)