Nikmati fitur lengkap distribusi bias, newsletter, pemberitahuan berita
Rehabilitasi Mangrove jadi Prioritas, Target Konservasi Laut Capai 97,5 Juta Hektare
Bagikan:
Penulis: Adriyan Adirizky Rahmat · Reporter: Adriyan Adirizky R
Ringkasan Berita
Rehabilitasi mangrove menjadi prioritas pemerintah Indonesia sebagai strategi untuk menjaga produktivitas sektor kelautan dan perikanan serta memperkuat ketahanan pangan nasional di tengah ancaman kerusakan ekosistem pesisir. Dengan kehilangan sekitar 40% kawasan mangrove dalam tiga dekade terakhir dan target perluasan kawasan konservasi laut mencapai 97,5 juta hektare pada 2045, upaya ini diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomi dan ekologis jangka panjang. Keberhasilan pemulihan ini sangat bergantung pada kolaborasi lintas pemangku kepentingan dan integrasi restorasi dengan pengembangan kawasan budidaya untuk meningkatkan produksi perikanan dan mendukung ketahanan pangan.
Menteri KP RI, Sakti Wahyu Trenggono melakukan penanaman mangrove sebagai salah satu langkah rehabilitasi. (Foto: KKP RI)
JAKARTA, AFU.ID — Rehabilitasi mangrove menjadi strategi untuk menjaga produktivitas sektor kelautan dan perikanan, sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional di tengah meningkatnya tekanan terhadap ekosistem pesisir. Upaya itu sangat mendesak lantaran kerusakan mangrove terus berlangsung dalam beberapa dekade terakhir, bahkan berpotensi mengganggu keseimbangan lingkungan dan keberlanjutan sumber daya. Oleh karenanya, pemulihan ekosistem juga mengarah agar memberikan manfaat ekonomi dan ekologis secara bersamaan.
Melansir website Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia (KKP RI), negara kita telah kehilangan sekitar 40% kawasan mangrove dalam tiga dekade terakhir dengan laju kerusakan mencapai sekitar 52 ribu hektare per tahun. Selain itu, sekitar 19,26% mangrove berada dalam kondisi kritis akibat kombinasi faktor alam dan meningkatnya aktivitas manusia. Alhasil, kondisi itu mendorong Pemerintah RI untuk memperkuat program rehabilitasi berbasis pemulihan fungsi ekosistem.
Sebagai informasi, ekosistem mangrove berperan penting sebagai pelindung wilayah pesisir, habitat berbagai biota laut, penopang produktivitas perikanan, sumber penghidupan masyarakat, hingga penyerap emisi karbon. Oleh karenanya, rehabilitasi berfokus kepada penanaman pohon dan memastikan ekosistem dapat kembali berfungsi secara optimal. KKP RI berharap, pendekatan itu dapat menghasilkan manfaat jangka panjang bagi lingkungan serta sektor kelautan dan perikanan.
Akan tetapi, keberhasilan pemulihan mangrove sangat bergantung pada kolaborasi lintas pemangku kepentingan melalui kebijakan terpadu, pemanfaatan ilmu pengetahuan, pemberdayaan masyarakat, penguatan pendanaan, pengawasan, dan edukasi publik. Sinergi itu menjadi faktor utama agar program rehabilitasi berjalan secara berkelanjutan dan memberikan dampak nyata terhadap kesehatan ekosistem pesisir. “Rehabilitasi mangrove tidak boleh berhenti pada kegiatan penanaman semata, tetapi harus dilakukan berbasis kesesuaian ekologis agar fungsi ekosistem benar-benar pulih,” ungkap Menteri KP RI, Sakti Wahyu Trenggono.
Rehabilitasi Mangrove Perkuat Ketahanan Pangan Nasional
Sakti Wahyu Trenggono menyampaikan, rehabilitasi mangrove menjadi bagian dari target perluasan kawasan konservasi laut yang ditetapkan mencapai 97,5 juta hektare pada 2045. Kawasan itu mencakup ekosistem mangrove, padang lamun, dan terumbu karang yang berperan menjaga produktivitas perikanan tangkap nasional dalam jangka panjang. Penguatan kawasan konservasi juga bertujuan untuk menjaga keberlanjutan sumber daya kelautan.
Lebih lanjut, KKP RI mengintegrasikan restorasi mangrove dengan pengembangan kawasan budidaya melalui program revitalisasi tambak kurang produktif di pesisir Pantai Utara (Pantura) Jawa tahap pertama seluas 14 ribu hektare. Program itu akan memperbaiki ekosistem pesisir, meningkatkan produksi perikanan, menyerap tenaga kerja, dan mendukung ketahanan pangan nasional. “Indonesia berperan strategis sebagai salah satu produsen perikanan utama dengan potensi sumber daya kelautan yang besar, termasuk 23 persen ekosistem mangrove dunia yang menopang produktivitas perikanan dan ketahanan pangan,” tutur Menteri Trenggono.
Kebutuhan pangan global yang proyeksinya terus meningkat hingga populasi dunia mencapai 9,66 miliar jiwa pada 2050 menjadikan keberlanjutan ekosistem pesisir semakin penting. Dengan kepemilikan sekitar 23% ekosistem mangrove dunia, keberhasilan rehabilitasi di Indonesia tak hanya menentukan daya dukung sektor perikanan nasional. Akan tetapi, juga memperkuat kontribusi negara terhadap ketahanan pangan dan mitigasi perubahan iklim secara global. (ADR)