JAKARTA, AFU.ID — Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) memproduksi kedelai lokal secara masif melalui pemanfaatan lahan tidur guna memutus ketergantungan negara terhadap komoditas impor sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat daerah.
Menteri Pertahanan, Sjafrie Sjamsoeddin mengungkapkan tujuan strategis penugasan matra laut ini merespons fakta memprihatinkan terkait rendahnya kualitas kedelai impor yang selama ini membanjiri pasar nasional.
"Jadi, bisa dibayangkan, kita impor kedelai itu makanan ternaknya orang di luar. Sekarang, Angkatan Laut dengan dua kali panen, dia sudah mempunyai kualitas bibit kedelai, yang tidak lagi istilah makanan ternak itu,” kata Sjafrie saat rapat dengar pendapat di Gedung Parlemen, Jakarta, Selasa (19/5/2026).
Realisasi Panen untuk Masyarakat
Guna memenuhi target penyediaan bibit berkualitas tersebut, Kepala Dinas Penerangan TNI AL (Kadispenal), Laksamana Pertama TNI Tunggul mengungkapkan prajuritnya mulai berhasil memanen ribuan ton kedelai untuk diserahkan sepenuhnya kepada warga sekitar.
"Sebagai gambaran di beberapa lahan TNI AL seperti Lampung yang panen pada Oktober 2025 dengan luas lahan 30 hektare, mampu menghasilkan panen kedelai 4 ton per hektare," ujar Tunggul di Jakarta, Sabtu (23/5).
Tunggul menjamin pengolahan lahan ini akan terus digencarkan ke wilayah lain agar pasokan kedelai dalam negeri stabil dan masyarakat lokal dapat memanfaatkannya untuk kebutuhan pangan pribadi maupun diperjualbelikan kembali.
"Sedangkan pekan lalu di Nganjuk Jawa Timur dengan luas lahan 400 hektare, estimasi hasil panen 1,5 hingga 2 ton per hektare," tuturnya.
Sebagai informasi, program ketahanan pangan ini merupakan mandat Kementerian Pertahanan yang membagi tugas spesifik penggarapan sektor pertanian bagi setiap matra militer. TNI Angkatan Darat ditugaskan mengamankan komoditas jagung, padi, dan palawija, sementara tanggung jawab penanaman kedelai diserahkan secara penuh kepada TNI Angkatan Laut. (ANT/NAD)