Nikmati fitur lengkap distribusi bias, newsletter, pemberitahuan berita
Presiden Prabowo Instruksikan Pembaruan Buku Ajar Nasional, Negara Tetangga jadi Pembanding
Bagikan:
Penulis: Adriyan Adirizky Rahmat · Reporter: Adriyan Adirizky R
Ringkasan Berita
Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan pembaruan buku ajar nasional untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, dengan membandingkan bahan ajar dari negara tetangga sebagai acuan. Ia menekankan pentingnya memperbaiki kondisi fisik buku pelajaran, serta memperkuat karakter kebangsaan, sains, teknologi, dan kemampuan bahasa asing. Sementara itu, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah telah mendistribusikan 5,5 juta buku ajar nasional untuk mendukung budaya literasi di 24.609 sekolah di seluruh Indonesia.
Presiden RI, Prabowo Subianto, menginstruksikan pembaruan buku ajar nasional. (Foto: BPMI Setpres/Muchlis Jr)
JAKARTA, AFU.ID — Upaya Pemerintah Republik Indonesia (RI) mengasah budaya literasi, kini menyasar buku ajar nasional. Terbaru, Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan langkah pembaruan agar peserta didik mendapat buku pelajaran yang lebih berkualitas. Ia bahkan ingin menjadikan bahan ajar milik negara-negara tetangga sebagai alat pembanding.
Instruksi Prabowo Subianto tersebut juga bertujuan untuk memperkuat fondasi pendidikan di Indonesia. Ia menilai, membangun budaya membaca sejak usia dini menjadi investasi jangka panjang. Adapun muaranya ialah meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) dalam menyongsong visi besar, Indonesia Emas 2045.
Sekretaris Kabinet (Seskab) RI, Teddy Indra Wijaya menyatakan Kepala Negara sedih melihat kondisi buku pelajaran dalam beberapa kunjungan ke sekolah. Di mana, Prabowo menemukan banyak buku yang kondisinya telah rusak dan ukuran tulisannya kecil. “Sehingga atas dasar itu, beliau mau cek buku-buku dari SD sampai SMA,” ungkap Teddy melansir presidenri.go.id, Sabtu (8/8/2026).
Seskab Teddy menyampaikan, Presiden Prabowo meminta pembaruan buku ajar nasional harus membandingkan dengan negara tetangga. Dengan begitu, hasilnya akan menjadi acuan evaluasi dalam meningkatkan kualitas buku pelajaran nasional. “Pada intinya, kita akan perbaiki menjadi lebih baik nanti,” tuturnya.
Prabowo Subianto pun memberikan perhatian khusus pada sejumlah aspek strategis, salah satunya penguatan karakter kebangsaan. Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) RI, Prasetyo Hadi, menyebut aspek yang kedua adalah peningkatan kualitas untuk mengejar ketertinggalan sains dan teknologi. “Yang ketiga, kemampuan bahasa asing, salah satunya adalah Bahasa Inggris, untuk menghadapi kompetisi global,” ujarnya.
Selain itu, Presiden Prabowo menginginkan kualitas fisik buku ajar nasional mempunyai tampilan yang lebih menarik. Kemudian bahannya tahan lama agar dapat terpakai dalam jangka panjang dan ukuran huruf yang membuat siswa lebih nyaman membacanya. Prasetyo Hadi lantas menegaskan, budaya membaca secara rutin menjadi nilai yang kini kembali digalakkan di lingkungan pendidikan nasional.
Kemendikdasmen Salurkan 5,5 Juta Buku Ajar Nasional
Di sisi lain, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI telah menyalurkan 5,5 juta buku ajar nasional. Penyaluran itu terlaksana di Kabupaten Kudus, Provinsi Jawa Tengah (Jateng), Jumat (31/7/2026 lalu. Hingga semester I-2026, kementerian yang dipimpin oleh Abdul Mu’ti ini telah mendistribusikan 42 juta eksemplar buku bacaan bermutu kepada anak-anak Indonesia.
Abdul Mu’ti menjelaskan, sebanyak 5.538.300 eksemplar buku bacaan bermutu akan menyasar 18.444 SD dan 6.165 SMP. Yang mana, 24.609 sekolah itu tersebar di 510 kota/kabupaten pada 38 provinsi. “Pelepasan lima juta buku ini untuk meningkatkan literasi anak-anak,” paparnya.
Kemendikdasmen RI pun memprioritaskan sekolah yang kompetensi literasinya minim berdasarkan hasil Asesmen Nasional 2025. Kedua, sekolah-sekolah yang belum menerima bantuan pada tahun-tahun ajaran sebelumnya agar buku hadir di sekolah yang paling membutuhkan. Sebagai informasi, penyaluran 5.538.300 eksemplar buku bacaan bermutu tersebut menghabiskan anggaran sebesar Rp40,65 miliar. (ADR)