JAKARTA, AFU.ID — Lima tahun lagi atau 2031, Indonesia telah berhasil mencapai swasembada daging.
Demikian prediksi Presiden Republik Indonesia (RI), Prabowo Subianto, yang kembali menegaskan komitmennya untuk memperkuat kedaulatan pangan, Sabtu (23/5/2026).
Prabowo menyampaikannya ketika berpidato dalam panen raya udang dan peninjauan sortir hasil panen di wilayah Budi Daya Udang Berbasis Kawasan (BUBK) Kebumen, Jawa Tengah.
Ia menyatakan, pemerintahannya telah berhasil meraih sejumlah capaian strategis dalam 19 bulan ke belakang.
Terutama di sektor pangan nasional, di mana Indonesia kini telah mencapai swasembada pada sejumlah komoditas utama.
“Kita sekarang sudah swasembada pangan untuk kategori sumber karbohidrat, yaitu beras dan jagung,” ungkap Prabowo Subianto.
“Kemudian protein ada telur dan ayam, tapi daging kita masih belum,” sambungnya.
Kendati demikian, Presiden RI menjelaskan bahwa pemerintahannya terus berupaya mencapai swasembada daging dalam beberapa tahun ke depan.
“Mungkin empat atau lima tahun lagi kita sudah swasembada daging,” tutur Prabowo Subianto.
Ia menilai, capaian tersebut menjadi hal penting di tengah situasi dunia yang kini penuh dengan konflik dan ketidakpastian geopolitik.
Menurutnya, Indonesia harus tetap waspada dan memperkuat ketahanan nasional di berbagai sektor.
“Di dunia sekarang banyak pertikaian, perang di mana-mana, bersyukur ke Yang Maha Kuasa kita masih tidak terlibat, tapi tetap harus waspada,” ujarnya.
“Kita harus punya kekuatan, makanya harus bangun kekuatan pertahanan untuk jaga kekayaan,” tambah Kepala Negara.
Presiden Prabowo lantas menyebut, kedaulatan pangan menjadi pondasi utama menuju Indonesia yang lebih kuat, berdaulat, dan sejahtera.
Berdasarkan data Badan Pangan Nasional (Bapanas), Indonesia telah mencapai swasembada beras pada akhir tahun 2025 kemarin.
Produksi beras nasional mencapai 34,61 juta ton (surplus sekitar 4 juta ton) yang membuat Pemerintah RI menghentikan total impor.
Indonesia juga telah menyetop impor jagung pakan secara total karena pasokan dari panen dalam negeri mengalami surplus dan mencukupi kebutuhan peternakan nasional.
Sama halnya dengan ketersediaan telur dan daging ayam ras murni yang berasal dari peternak lokal, tanpa ada ketergantungan pasokan impor.
Terkhusus daging sapi maupun kerbau, Pemerintah RI masih mengandalkan impor untuk menutupi defisit sekitar 271.818 ton.
Hal tersebut karena kebutuhan konsumsi tahunan daging sapi nasional mencapai 787.415 ton, sedangkan produksi dalam negeri baru 515.597 ton. (ADR)