JAKARTA, AFU. ID - Kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang menetapkan ekspor komoditas tambang strategis dan CPO lewat satu pintu dengan membentuk Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) masih direspons negatif pasar. Di bursa perdagangan saham, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini Kamis (21/5/2026) rontok mendekati angka 6.000.
Rontoknya IHSG langsung terjadi pada perdagangan sesi I. Berdasarkan data perdagangan RTI Business, IHSG melorot hingga 2,76% ke level 6.144,35 di penutupan sesi I. Padahal di awal perdagangan, IHSG sempat menguat dan bergerak pada level 6.378,81. Hingga sesi I perdagangan, tercatat volume perdagangan sebesar 19,91 miliar dengan nilai transaksi sebesar Rp 9,78 triliun. Terdapat 1.285.918 kali saham yang diperdagangkan.
Kerontokan IHSG terus terjadi pada pada awal perdagangan sesi kedua, pukul 14.12 WIB. Indeks kembali merosot 3,54 persen ke level 6.094,642. Tekanan jual terlihat merata di hampir seluruh sektor saham, tercermin dari dominasi saham yang melemah mencapai 660 saham. Hanya 84 saham yang menguat dan 71 saham stagnan.
Seluruh sektor kompak berada di zona merah. Sektor bahan baku anjlok 7,36 persen, sektor energi merosot 6,34 persen. Sementara, sektor barang konsumsi siklikal turun 5,30 persen, diikuti infrastruktur 5,27 persen, serta transportasi dan logistik terkoreksi 4,93 persen.
ekanan juga menjalar ke sektor perindustrian yang turun 4,79 persen dan sektor properti 3,59 persen, sektor keuangan terkoreksi 1,56 persen. Sektor kesehatan dan barang konsumsi non-primer masing-masing turun 1,88 persen, sedangkan sektor teknologi terkoreksi 1,45 persen.
Di sektor energi, emiten yang mengalami penurunan hingga Auto Reject Bawah (ARB) adalah PT Cakra Buana Resources Energi Tbk (CBRE) yang melemah 14,72% ke harga Rp 695 per saham. Selanjutnya saham milik Bakrie Grup PT Bumi Resources Minerals Tbk (BMRS) juga melemah signifikan sebesar 14,39% ke harga Rp 565 per saham. Bahkan, emiten energi terbarukan seperti PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) ikut melemah 7,62 persen.
Hal serupa juga terjadi pada perdagangan valuta asing. Nilai tukar rupiah pada Kamis (21/5/2026) pagi bergerak melemah tipis 1 poin atau 0,01 persen menjadi Rp17.655 dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.654 per dolar AS.
Analis Bank Woori Saudara Rully Nova mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi harga minyak yang masih tinggi. “Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melemah dengan kisaran di Rp17.690 - Rp17.740 dipengaruhi oleh faktor global harga minyak yang masih di atas 100 dolar AS per barel dan index dollar yang masih kuat,” ujarnya seperti dikutip ANTARA.
Melihat sentimen domestik, kondisi fiskal pemerintah dinilai cenderung rapuh terhadap geopolitik, harga minyak, subsidi, dan insentif untuk menjaga data beli masyarakat. “Pidato presiden (Prabowo Subianto) masih harus dicermati lebih mendalam lagi dengan kondisi fiskal yang rapuh saat ini mengingat tax ratio Indonesia tidak pernah beranjak di atas 10 persen dari GDP (Gross Domestic Product),” ungkap Rully.
Analisis Bloomberg menyatakan. Tekanan terhadap rupiah dipengaruhi oleh kekhawatiran terhadap inflasi dari kenaikan harga minyak. Hal ini membuat imbal hasil obligasi global melesat. Kondisi ini masih berpotensi menyebabkan adanya arus modal keluar (capital outflow) dari regional Asia, termasuk Indonesia.
“Dalam jangka pendek, mata uang Asia kemungkinan masih akan diperdagangkan dalam posisi yang lebih lemah,” kata Chrispother Wong, strategist di Oversea-Chinese Banking Corp., seperti yang dilaporkan Bloomberg News.
Di sisi lain, persepsi risiko terhadap aset di pasar negara berkembang termasuk Indonesia masih relatif tinggi. Ketidakpastian global membuat aliran modal asing yang masuk belum cukup deras untuk bisa menopang penguatan rupiah secara berkelanjutan.
Bloomber menganalisa, kenaikan BI Rate 50 basis poin menuju 5,25% memang jadi langkah agresif dalam memprioritaskan stabilitas pasar dan menjaga nilai tukar serta meredam arus keluar modal asing. Namun efektivitasnya masih sangat bergantung pada kondisi eksternal, terutama dari harga minyak mentah.
Dari sisi internal, Bloomberg menilai, Indonesia juga masih banyak pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan terkait kondisi defisit fiskal yang masih menjadi perhatian pasar. Rasio pendapatan negara terhadap PDB Indonesia hanya tercatat sebesar 11-12% dari PDB. Angka ini jauh di bawah negara Asia Tenggara seperti Filipina yang mencapai 21% dan Kamboja 15%.
Angka inilah yang menurut Bloomberg, akan ditangkap oleh pelaku pasar sebagai sinyal kondisi fiskal domestik yang masih rapuh di tengah tekanan global yang semakin besar. Rendahnya rasio penerimaan negara terhadap PDB dapat menunjukkan kepada investor– ruang fiskal Indonesia relatif terbatas untuk menghadapi gejolak eksternal.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sendiri masih percaya diri, pasar pelan-pelan akan merespons positif kebijakan Prabowo. Menurutnya, IHSG bakal bergerak naik ketika investor sudah bisa memahami dampak dibentuknya Badan Usaha Milik Negara (BUMN) khusus ekspor.
Purbaya berpendapat koreksi IHSG yang terjadi disebabkan investor belum mendapatkan kepastian terkait arah kerja badan baru tersebut. “Kalau ada ketidakpastian, biasanya takut, jual dulu. Tapi, kalau mereka nanti mengerti dampak yang sebetulnya seperti apa, harganya (IHSG) akan naik,” kata Purbaya kepada wartawan di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Kamis (20/5/2026).
Purbaya juga yakin dalam waktu dekat trend rupiah akan mengalami penguatan. Menurutnya, pemerintah sudah menghitung risiko pasar melalui model ekonomi yang disebutnya cukup matang.
Ia juga memastikan pemerintah telah masuk ke pasar obligasi untuk menjaga stabilitas rupiah. “Kan itu kalau saya diem aja, bertahan di level sekarang, kita kan udah masuk ke bond market, tapi dalam waktu juga ada langkah-langkah pemerintah yang membuat rupiah akan menguat dengan signifikan,” tegasnya.
MAR