JAKARTA, AFU.ID - Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI per Juli 2026 mengungkap sebuah bahaya tersembunyi. Penyakit Jantung Bawaan (PJB) Kritis kini menjadi ancaman terbesar bagi bayi baru lahir di Indonesia.
Dari hasil CKG diketahui, dari 490 ribu bayi yang menjalani Newborn Screening melalui alat deteksi kadar oksigen (pulse oximetry), sebanyak 4,3 persen atau sekitar 20.946 bayi terindikasi memiliki kelainan struktur jantung dan membutuhkan pemeriksaan lanjutan. Jika tidak dideteksi sejak dini, kelainan ini berujung pada gagal jantung akut hingga kematian mendadak begitu bayi dibawa pulang ke rumah.
Mengapa angkanya mendadak mengkhawatirkan? Para ahli kardiologi anak dan jurnal kedokteran sepakat menunjuk satu muara, kondisi kesehatan ibu, infeksi, serta paparan zat berbahaya yang dialami ibu selama trimester pertama kehamilan—yang erat kaitannya dengan pergeseran gaya hidup modern. Secara biologis, pembentukan organ jantung janin (organogenesis) terjadi sangat awal, yakni pada minggu ke-3 hingga ke-8 kehamilan.
"Sering kali, kelainan struktur jantung, baik pada sekat, katup, maupun pembuluh darah besar, sudah terbentuk bahkan sebelum sang ibu menyadari bahwa dirinya sedang berbadan dua," tulis laporan ilmiah dalam jurnal kardiologi anak Sari Pediatri, dikutip Jumat (17/6/2026).
Di sinilah letak kerentanannya. Jurnal tersebut mengungkapkan, salah satu penyebab PJB pada bayi adalah diebates melitus pada ibu. Ketika gaya hidup urban dan pola konsumsi modern yang tidak sehat diadopsi oleh calon ibu, risiko kegagalan pembentukan jantung janin melonjak drastis.
Gaya hidup modern yang akrab dengan makanan tinggi karbohidrat, gula rafinasi, serta kurangnya aktivitas fisik telah memicu ledakan kasus diabetes di usia muda. Data CKG Kemenkes 2026 menunjukkan bahwa diabetes melitus kini menjadi salah satu penyakit kronis dengan jumlah penderita terbesar yang sedang diintervensi pemerintah.
Hasil CKG mengungkapkan, sekitar 10,1% atau 1 dari 10 orang di Indonesia menderita diabetes. Angka ini menjadikan diabetes sebagai salah satu temuan penyakit tertinggi, di mana sebagian besar penderitanya tidak menyadari bahwa mereka mengidap penyakit tersebut. Berdasarkan evaluasi program CKG terhadap populasi dewasa, terdapat lebih dari 100.000 peserta yang terdeteksi mengidap diabetes. Sebagai pelengkap, data Kemenkes sebelumnya mencatat prevalensi diabetes melitus pada penduduk usia 15 tahun ke atas mencapai 11,7%
Bagi wanita usia subur, diabetes yang tidak terkontrol sebelum maupun selama kehamilan (diabetes gestasional) adalah malapetaka bagi janin. Konsensus medis dalam Journal of the American College of Cardiology mencatat bahwa kadar gula darah ibu yang tinggi bertindak sebagai racun yang mengacaukan regulasi genetik dan mengganggu perkembangan sel-sel muda yang tengah menyusun struktur jantung janin.
Penyebab PJB pada bayi berikutnya adalah infeksi selama kehamilan, terutama Rubella atau TORCH. Infeksi virus seperti toxoplasma, HIV, sifilis, rubella, dan herpes diketahui dapat menembus barikade plasenta, menyerang jaringan janin, dan merusak perkembangan katup serta arteri paru-paru. Bayi terlahir dengan cacat jantung bawaan yang memicu gagal jantung dini.
Berikutnya adalah konsumsi obat instan, alkohol, dan budaya rokok/vape (aat teratogenik). Kebiasaan masyarakat modern yang gemar melakukan pengobatan mandiri (self-medication) secara instan turut menyumbang risiko tinggi. Konsumsi obat-obatan tertentu tanpa resep dokter saat hamil muda—seperti asam retinoat (yang sering ada dalam obat jerawat), obat anti-kejang, atau litium—bersifat teratogenik atau dapat menggagalkan perkembangan organ janin.
Gaya hidup bersosialisasi modern yang melibatkan konsumsi alkohol, paparan asap rokok, hingga maraknya penggunaan rokok elektrik (vape) pada perempuan usia produktif menjadi pemicu racun lingkungan yang memicu Multifactorial Inheritance—interaksi kompleks genetik dan lingkungan yang berujung pada gagal struktur jantung.
Mengapa deteksi dini via CKG menjadi penting? Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menegaskan, CKG sengaja dirancang bukan sekadar untuk mendata, melainkan mengubah paradigma kesehatan masyarakat agar fokus pada pencegahan dan penanganan sedini mungkin.
"Semakin banyak masyarakat yang melakukan cek kesehatan, semakin dini penyakit dapat ditemukan dan diobati. Tujuan kita bukan sekadar mengetahui siapa yang sakit, tetapi memastikan masyarakat tetap sehat dan produktif," ujar Budi Gunadi di laman Kementerian Kesehatan, dikutip Jumat (17/7/2026)
Dokter spesialis jantung anak kerap mengingatkan bahwa bayi dengan PJB Kritis sering kali mengecoh secara klinis. Mereka tampak lahir sehat, menyusu dengan kuat, dan aktif pada 24 jam pertama. Namun, secara anatomi, mereka bertahan karena dibantu oleh pembuluh darah janin (duktus arteriosus) yang masih terbuka.
Begitu pembuluh darah alami ini menutup dalam hitungan hari, pasokan oksigen drop drastis. Bayi akan mengalami sesak napas, membiru, gagal jantung, hingga syok secara mendadak. Skrining oksigen pada usia 24–48 jam mendeteksi kelainan itu sebelum fase fatal terjadi.
Terkait CKG, Kemenkes tidak hanya berhenti pada tahap pemeriksaan gratis yang per 5 Juli 2026 telah mencakup 59,6 juta warga dari target 130 juta di akhir tahun. Langkah CKG per tahun 2026 ini resmi melangkah ke fase pengobatan untuk mengendalikan hulu bebragai penyakit yang terdeteksi termasuk PJB pada bayi.
Bagi peserta CKG yang telanjur terdiagnosis penyakit kronis, Kemenkes kini memastikan mereka mendapatkan pengobatan yang semestinya. Sejauh ini, trennya cukup positif. Sebanyak 35,4 persen pasien hipertensi yang terjaring di CKG tahun lalu sudah kembali memeriksakan diri di tahun 2026, di mana 46,9 persen di antaranya sukses mengendalikan tekanan darah mereka.
Sementara untuk pasien diabetes, ada 33,1 persen pasien yang kembali kontrol. Sekitar 69,4 persen di antaranya berhasil menjaga kadar gula darahnya tetap stabil. Pemerintah menargetkan setidaknya setengah dari orang dengan penyakit kronis ini bisa rutin berobat dan mencapai kondisi yang terkendali.
Kemenkes sendiri berkaca dari kesuksesan negara maju seperti Korea Selatan melalui target 'Triple 80'. Melalui program ini, negara maju seperti Korea Selatan berhasil menekan angka kematian akibat penyakit jantung.
"Triple 80 yaitu 80 persen masyarakat diskrining, 80 persen penderita diobati, dan 80 persen di antaranya berhasil terkendali. Itulah arah yang sedang kita bangun di Indonesia," pungkas Budi Gunadi.
MAR