AFU.id

Kepatuhan Industri Rendah, Akselerasi Pembangunan Berkelanjutan Terancam Hadapi Jalan Buntu

Bagikan:

Penulis: Adriyan Adirizky RahmatReporter: Adriyan Adirizky R

Ringkasan Berita

Pembangunan berkelanjutan di wilayah domestik kini menghadapi tantangan berat akibat tingginya akumulasi kerusakan ekosistem lingkungan. Kelalaian kolektif dalam menjaga daya dukung alam berisiko memicu krisis ekologis yang berkepanjangan bagi generasi mendatang.

Kepatuhan Industri Rendah, Akselerasi Pembangunan Berkelanjutan Terancam Hadapi Jalan Buntu
Menteri LH/Kepala BPLH RI, Jumhur Hidayat (tengah). (Foto: KLH/BPLH RI)

Ego Sektoral Menghambat Pembangunan Berkelanjutan

Bagaimanapun juga, penyelesaian krisis lingkungan yang masif tidak dapat dicapai apabila setiap instansi berjalan sendiri tanpa integrasi yang kuat. Sinergi lintas sektoral antara kementerian dengan lembaga pemegang kebijakan moneter menjadi fondasi mutlak keberhasilan program.

“Krisis lingkungan yang masif tidak akan bisa diselesaikan jika pemerintah, pelaku bisnis, institusi keuangan seperti OJK dan Bank Indonesia, serta komunitas masyarakat sipil bergerak sendiri-sendiri. Sinergi lintas sektor adalah kunci utama mengembalikan harkat dan martabat bumi pertiwi,” tutur Rektor Universitas Harkat Negeri, Sudirman Said.

Pada dasarnya, efektivitas gerakan pemulihan alam tersebut bertumpu pada ketegasan sanksi hukum bagi industri perusak lingkungan yang mengabaikan amdal. Tanpa adanya penegakan regulasi yang konsisten, segala bentuk komitmen pembangunan berkelanjutan hanya akan menjadi slogan seremonial yang gagal menyelamatkan bumi pertiwi dari kehancuran ekologis. (ADR)

Berita Terkait

Pilihan Redaksi