JAKARTA, AFU.ID — Pengadaan mobil operasional Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih dari India mulai masuk radar Komisi Pemberantasan Korupsi. Belum ada palu penyelidikan. Belum ada tersangka. Tapi alarm pencegahan sudah dinyalakan.
Ketua KPK Setyo Budiyanto menegaskan, pemerintah pusat telah merespons polemik impor kendaraan tersebut. Namun, lembaga antirasuah tidak tinggal diam.
“Selama itu masih sifatnya potensi, kami punya yang namanya asesmen risiko korupsi atau Risk Corruption Assessment (RCA),” kata Setyo, Selasa (24/2/2026).
Bahasanya halus. Pesannya tegas.
KPK memilih mengamati. Menunggu. Menghitung celah. RCA bukan proses penindakan, melainkan instrumen pencegahan. Tujuannya jelas: memastikan program strategis tidak berubah menjadi pintu masuk masalah hukum di kemudian hari.
Setyo menyebut, selama masih dalam tahap potensi, pengawasan dilakukan dalam kerangka mitigasi risiko. Artinya, KPK belum menemukan pelanggaran, tetapi membaca kemungkinan.
“Sehingga jangan sampai terjadi permasalahan,” ujarnya.
Sorotan publik terhadap impor mobil Kopdes dari India bukan tanpa alasan. Program yang digadang sebagai penguat ekonomi desa itu menyentuh anggaran besar dan melibatkan rantai pengadaan lintas negara. Di titik inilah transparansi dan akuntabilitas menjadi krusial.
KPK saat ini mengambil posisi menunggu langkah lanjutan pemerintah. Respons sudah ada, tapi publik menanti eksekusinya. Apakah mekanisme pengadaan benar-benar kompetitif? Apakah kajian kebutuhan dan efisiensi telah matang? Apakah ada opsi produksi dalam negeri yang dipertimbangkan?
Setyo menyatakan pihaknya percaya pemerintah memiliki perhitungan matang agar program tidak melenceng dari tujuan awal.
“Pemerintah sudah tahu apa yang terbaik untuk menjaga agar program strategis ini bisa berjalan dengan baik dan bermanfaat untuk masyarakat,” tutupnya.
Namun dalam politik anggaran, niat baik saja tak cukup. Sistem harus kuat. Proses harus terang. Dan setiap rupiah harus bisa dipertanggungjawabkan.
KPK kini memasang radar. Pemerintah memegang kemudi. Publik menonton dengan mata terbuka. (*)