JAKARTA, AFU.ID - Media sosial dan masyarakat Kabupaten Sidoarjo dihebohkan oleh beredarnya kabar mengejutkan mengenai ratusan anak dan pelajar yang terdiagnosis Human Immunodeficiency Virus (HIV). Unggahan yang viral tersebut menyebutkan setidaknya ada 522 anak dan pelajar di Sidoarjo hidup dengan HIV, yang terdiri dari anak usia PAUD/TK, siswa SD-SMP, hingga ratusan pelajar tingkat SMA.
Unggahan yang beredar di sosial media, dikutip Kamis (23/7/2026), data tersebut berasal dari Yayasan Delta Crisis Center (DCC). Diungkapkan, yayasan tersebut mencatat sebanyak 522 anak dan pelajar di Sidoarjo hidup dengan HIV, yang mana 13 di antaranya merupakan anak usia PAUD/TK, 44 siswa SD-SMP, dan 465 pelajar SMA. Kasus ini merupakan akumulasi dari total 7.129 Orang dengan HIV (ODHIV) di wilayah tersebut.
Data yayasan itu juga mengungkapkan, para remaja ini tertular HIV dari beberapa faktor. Mulai dari bawaan dari ibu ke anak (saat hamil, persalinan, atau ASI), jarum suntik (narkoba), dan hubungan seksual berisiko. Direktur Program Yayasan DCC Ferry Efendi merinci temuan ini menyasar 13 anak PAUD/TK, 44 siswa SD-SMP, serta didominasi oleh 465 pelajar SMA sederajat hingga mahasiswa.
Kabar ini tak pelak memicu gelombang kekhawatiran dan keresahan mendalam di kalangan para orang tua. Menanggapi kesimpangsiuran informasi tersebut, Pemerintah Kabupaten Sidoarjo melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) bersama lembaga swadaya pendamping ODHIV, Yayasan Delta Crisis Center (DCC), akhirnya meluruskan polemik perbedaan data sekaligus membedah akar penyebab penularan HIV di kelompok usia muda.
Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo secara tegas membantah narasi yang menyebut ada 522 pelajar di Sidoarjo yang terpapar HIV/AIDS dalam waktu singkat atau dalam kurun satu tahun terakhir. Kepala Dinas Kesehatan Sidoarjo, Lakhsmie Herawati Yuwantina menegaskan, berdasarkan data resmi yang dihimpun Dinkes sejak tahun 2001 hingga Juli 2026 (akumulasi selama 25 tahun), jumlah kasus HIV pada kelompok usia pelajar (11–17 tahun) tercatat sebanyak 60 kasus.
"Dari 60 kasus itu, sebanyak 7 anak telah meninggal. Sehingga saat ini terdapat 53 anak usia pelajar yang masih teridentifikasi hidup dengan HIV," ujar Lakhsmie kepada wartawan, Kamis (23/7/2026).
Lakhsmie merinci gambaran data kasus HIV anak di Kabupaten Sidoarjo. Untuk kelompok usia pelajar (11–17 Tahun), total akumulasi sejak 2001-2026 mencapai 60 kasus, dengan korban meninggal dunia 7 anak. Sedangkan yang aktif melakukan pengobatan/hidup dengan HIV mencapai 53 anak
Untuk kelompok Balita dan Anak (0–10 Tahun), total akumulasi 2001-2026 mencapai 117 kasus. Sejumlah 35 anak di antaranya meninggal dunia. Sementara yang tidak terpantau atau pindah domisili mencapai 50 anak. Kemudian yang aktif melakukan pengobatan/rutin ARV mencapai 32 anak
Dinkes mengimbau masyarakat untuk tidak menelan mentah-mentah kabar yang belum terverifikasi agar tidak menimbulkan kegaduhan publik yang memicu stigma negatif terhadap para penyintas. Direktur Program Yayasan Delta Crisis Center (DCC), Ferry Efendi, menjelaskan adanya perbedaan data antara lembaganya dan Dinkes Sidoarjo karena perbedaan metode pencatatan dan cakupan pendampingan.
Hingga 21 Juli 2026, DCC mencatat mendampingi sebanyak 5.107 Orang dengan HIV/AIDS (ODHIV) dari total akumulasi kasus terkonfirmasi di faskes Sidoarjo yang mencapai sekitar 7.182 hingga 7.129 kasus. Ferry membeberkan beberapa poin teknis terkait pencatatan data tersebut.
Pertama, cakupan pendampingan. Data DCC khusus mencatat orang-orang yang masuk dalam jaringan dan menerima pendampingan psikososial DCC, sedangkan Dinkes mencatat seluruh kasus yang terkonfirmasi secara resmi di seluruh fasilitas kesehatan (faskes).
Kedua, kategori pendidikan/pekerjaan. Data tingkat pendidikan (seperti status siswa PAUD, SD, SMP, SMA) dicatat saat pasien pertama kali mendaftar dan tidak diperbarui secara berkala. Ketiga, fokus pembaruan data. Yang rutin diperbarui oleh pendamping adalah usia pasien, regimen obat Antiretroviral (ARV), dan lokasi faskes tempat berobat untuk menjamin kesinambungan pengobatan pasien.
Berdasarkan analisis data dari Dinkes Sidoarjo dan Yayasan DCC, pola penularan HIV pada anak dan remaja terbagi tajam berdasarkan rentang usia. Pada anak usia dini hingga sekolah dasar sebagian besar kasus HIV pada balita, anak PAUD, hingga siswa SD-SMP terjadi akibat penularan vertikal dari ibu ke bayi (Mother-to-Child Transmission) yang terjadi selama masa kehamilan, proses persalinan, maupun pemberian air susu ibu (ASI). Hal ini umumnya terjadi karena sang ibu belum terdeteksi terinfeksi HIV atau belum mendapatkan terapi Antiretroviral (ARV) yang tepat sejak dini.
Berbeda dengan anak-anak, kasus HIV pada remaja usia sekolah menengah atas hingga perguruan tinggi lebih banyak berkaitan dengan faktor perilaku berisiko. Maraknya interaksi sosial tanpa pemahaman kesehatan reproduksi yang memadai, hubungan seksual berisiko (tanpa pengaman), serta potensi menjadi korban kekerasan seksual menjadi celah utama masuknya penularan HIV pada kelompok remaja.
Meski datanya dinilai tak se-menghebohkan yang beredar di medsosm fenomena HIV pada anak dan remaja di Sidoarjo seharusnya tetap menjadi alarm keras tentang pentingnya implementasi Pendidikan Kesehatan Reproduksi Komprehensif yang disesuaikan dengan tingkatan usia anak sejak dini.
Berikut beberapa langkah krusial yang harus diperkuat oleh pemerintah daerah, sekolah, dan keluarga. Pada usia dini atau dasar, mengajarkan batasan tubuh (bodily autonomy), yaitu mengenalkan area privasi/intim tubuh yang tidak boleh dipegang atau dilihat oleh orang lain guna mencegah kejahatan dan kekerasan seksual pada anak. Usia remaja, memberikan pemahaman kesehatan reproduksi yang jujur dan ilmiah, bahaya perilaku berisiko, serta penerapan edukasi ABCDE (Abstinence, Be faithful, Condom, No Drugs, Education).
Berikutnya adalah penguatan skrining ibu hamil (Triple Elimination), yaitu mengoptimalkan pemeriksaan kesehatan wajib bagi ibu hamil di Puskesmas untuk mendeteksi HIV, Sifilis, dan Hepatitis B secara dini agar dapat segera diintervensi dengan terapi ARV. Selain itu, membangun ruang dialog yang aman, hangat, dan tanpa penghakiman di dalam rumah, serta mendampingi penggunaan gawai dan akses informasi anak di era digital juga menjadi langkah penting.
MAR