AFU.id

Gebrakan Baru Kepala BGN Sudaryono, Prioritaskan Daerah Stunting Tinggi dan Pangan Lokal

Bagikan:

Penulis: Adriyan Adirizky RahmatReporter: Adriyan Adirizky R

Ringkasan Berita

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono, yang mulai menjabat pada 22 Juli 2026, meluncurkan kebijakan baru untuk memprioritaskan daerah dengan angka stunting tinggi dan penggunaan pangan lokal dalam program intervensi gizi nasional. Kebijakan ini bertujuan untuk meningkatkan efektivitas penyaluran program bagi anak-anak, ibu hamil, dan balita, serta memperkuat perekonomian lokal dengan memberdayakan petani dan UMKM. Selain itu, BGN akan menggunakan data dari Kementerian Kesehatan untuk menentukan wilayah prioritas dan menjadikan Bulog sebagai penyangga pasokan pangan ketika diperlukan, agar tidak mengganggu stabilitas harga di daerah.

Gebrakan Baru Kepala BGN Sudaryono, Prioritaskan Daerah Stunting Tinggi dan Pangan Lokal
Kepala BGN, Sudaryono. (Foto: BGN)

Gebrakan Kepala BGN Baru Sudaryono: Utamakan Pangan Lokal

Selain memprioritaskan daerah dengan angka stunting tinggi, Sudaryono memperkenalkan kebijakan baru yang menempatkan penggunaan bahan pangan lokal sebagai prioritas utama dalam pelaksanaan program MBG. Yang mana, itu sebagai respons terhadap usulan Perusahaan Umum (Perum) Bulog terkait penyediaan beras premium dalam rangka mendukung kebutuhan program. Ia menyebut, kehadiran Bulog tak akan menggantikan pemasok lokal, melainkan berfungsi sebagai penyangga ketika pasokan daerah tak mencukupi atau harga mengalami gejolak.

Sudaryono berharap, kebijakan tersebut mampu memperkuat dampak ekonomi program MBG melalui pemberdayaan petani, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta rantai pasok pangan di sekitar Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Dengan mengutamakan hasil produksi daerah, perputaran ekonomi lokal akan meningkat tanpa mengganggu stabilitas harga pangan. Pada saat yang sama, Bulog tetap dapat menjalankan fungsi menjaga stok nasional apabila terjadi kekurangan pasokan.

“Usulan dari Bulog kami pandang positif, namun yang ingin kami tegaskan adalah program MBG tetap memprioritaskan penggunaan bahan pangan dari daerah setempat. Kami ingin petani lokal, pedagang lokal, dan UMKM ikut merasakan manfaat dari perputaran ekonomi yang dihasilkan program ini. Jangan sampai keberadaan dapur MBG justru memicu gejolak harga di suatu wilayah karena menyerap pasokan yang terbatas, jadi kami memprioritaskan bahan pangan lokal terlebih dulu,” tutur Kepala BGN.

Sudaryono menjelaskan, Bulog akan berfungsi sebagai buffer alias penyangga ketika pasokan beras lokal belum mampu memenuhi kebutuhan program MBG atau terjadi potensi kenaikan harga. Ia berharap, strategi itu dapat menjaga keseimbangan antara keberhasilan intervensi gizi dan stabilitas ekonomi daerah. Perubahan tata kelola itu menunjukkan program MBG tak hanya untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat, melainkan sebagai instrumen penggerak ekonomi lokal secara berkelanjutan. (ADR)

Berita Terkait

Pilihan Redaksi