Sebelumnya, Zulfikar ditemukan meninggal dunia di kamar kosnya di Kota Metro saat masih menjalani Program Internship Dokter Indonesia. Ia diketahui sedang bertugas di RSUD Sukadana, Kabupaten Lampung Timur. Peristiwa tersebut kembali menjadi sorotan karena dalam beberapa bulan terakhir sejumlah dokter peserta program internship juga dilaporkan meninggal dunia di berbagai daerah dengan penyebab yang berbeda-beda.
Guru Besar Ilmu Kedokteran Prof Tjandra Yoga Aditama menyampaikan keprihatinannya atas meninggalnya Zulfikar. Menurutnya, apabila informasi yang beredar benar, maka Zulfikar merupakan dokter internship kelima yang meninggal dunia dalam rentang Februari hingga Juli 2026. "Pertama, kita kembali lagi amat sedih karena dengan meninggalnya teman sejawat dokter internship ini. Kalau berita ini benar maka sudah ada lima dokter internship kita yang meninggal antara Februari sampai Juli 2026, tentu dengan sebab yang berbeda-beda," kata Prof Tjandra dalam keterangannya, Kamis (23/7/2026).
Ia menilai persoalan tersebut tidak bisa hanya dipandang sebagai deretan angka kematian dokter muda, tetapi harus dilihat secara lebih menyeluruh agar akar persoalannya dapat dipahami. Prof Tjandra juga mengingatkan bahwa penyebab kematian dokter internship di Lampung belum dapat dipastikan sebelum investigasi selesai sepenuhnya. "Kita tentu memang belum dapat mengambil kesimpulan penyebab kematian dokter internship di Lampung ini sebelum investigasi dan mungkin juga otopsi yang akan dilakukan," ujarnya.
Menurutnya, bila seorang dokter internship diketahui mengalami sakit sebelum meninggal, maka ada dua hal yang harus dipastikan. Pertama, dokter tersebut harus memperoleh diagnosis dan pengobatan yang tepat sesuai kondisi medisnya. Kedua, apabila secara medis membutuhkan waktu pemulihan, maka yang bersangkutan harus diberikan kesempatan beristirahat. "Artinya, pada dokter yang sakit dan pada semua pasien perlu ditegakkan diagnosis yang tepat dan lalu mendapat pengobatan yang diperlukan sesuai diagnosis dan keadaan pasiennya," jelasnya.
Lebih lanjut, Prof Tjandra kembali mendorong pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan Program Internship Dokter Indonesia. Menurutnya, usulan tersebut sebenarnya sudah disampaikan sejak Mei 2026 ketika empat dokter internship dilaporkan meninggal dunia. "Ketiga bulan Mei 2026 sudah ada empat orang sejawat internship yang wafat maka saya -dan banyak teman- sudah menganjurkan dilakukan evaluasi menyeluruh dan perbaikan yang nyata dan bermakna," katanya. (EER)































