JAKARTA, AFU.ID — Kasus kekerasan seksual terhadap anak saat ini menjadi persoalan serius karena jumlahnya yang terus meningkat di Surabaya.
Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Surabaya mencatat, di luar masalah sengketa hak asuh, kasus pencabulan anak terus berulang dan mendominasi laporan masyarakat sejak Januari hingga Mei 2026.
"Kami sangat menyayangkan dengan kejadian yang terus berulang. Mulai Januari sampai bulan April dan masuk ke Mei ini memang masih banyak kasus pelecehan seksual," kata Ketua Komnas PA Surabaya Syaiful Bachri, Senin (25/5/2026).
Siapa yang Paling Sering Menjadi Pelaku?
Kondisi ini dinilai sangat miris karena ancaman predator anak justru datang dari lingkaran terdalam korban. Rentetan kasus terbaru di Surabaya membuktikan bahwa rata-rata pelakunya memiliki latar belakang sebagai figur pelindung, mulai dari pendidik, tokoh agama, hingga anggota keluarga kandung.
Syaiful merinci, kasus yang baru-baru ini dibongkar kepolisian meliputi ayah tiri (WRS) yang mencabuli dua putri kembarnya, serta ayah kandung (YS) yang merudapaksa anaknya sendiri sejak tahun 2023.
Selain keluarga, kekerasan juga terjadi di lingkungan pendidikan, seperti oknum guru honorer (MS) yang mencabuli siswi berusia 14 tahun, hingga guru ngaji (MZ) yang tega melecehkan tujuh santrinya di sebuah pesantren kawasan Genteng Kali.
Tuntutan Hukuman Maksimal
Merespons fenomena pelaku yang berasal dari lingkungan terdekat korban, Komnas PA mendesak aparat penegak hukum untuk tidak ragu menjatuhkan sanksi pidana yang paling berat.
"Kalau pelaku ini justru orang terdekat itu hukumannya harus lebih maksimal. Apabila ada tuntutan 15 tahun, bisa ditambah dari sepertiga masa tuntutan, dan ditambah lagi efek berapa banyak korbannya," tegas Syaiful.
Selain fokus pada hukuman pelaku, Syaiful menekankan bahwa pemulihan mental korban pencabulan bukanlah hal yang instan, melainkan membutuhkan pendampingan psikologis hingga lima atau enam tahun.
"Perlu peran serta dari stakeholder, pemerintahan sampai pemerintah yang terkecil seperti RT, RW, tokoh masyarakat, hingga tokoh agama. Dari keluargalah anak bisa bahagia, didiklah mereka secara benar," pungkasnya. (NAD)