JAKARTA, AFU.ID — PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) mempercepat sterilisasi enam pelabuhan penyeberangan melalui transformasi layanan berbasis digital guna meningkatkan keselamatan, keamanan, ketertiban, serta kualitas pelayanan bagi seluruh pengguna jasa nasional. Langkah ini merupakan bagian dari perubahan mendasar dalam tata kelola operasional ASDP secara keseluruhan, bukan sekadar pengaturan akses keluar-masuk pelabuhan semata. Direktur Operasional dan Transformasi ASDP, Rio Lasse, memastikan seluruh proses ini tengah dikebut menjelang tenggat implementasi yang sudah ditetapkan.
Enam pelabuhan yang menjadi sasaran sterilisasi meliputi Merak, Bakauheni, Ketapang, Gilimanuk, Kayangan, dan Lembar. ASDP saat ini tengah gencar melakukan sosialisasi intensif di keenam lokasi tersebut sebagai tahapan akhir sebelum implementasi awal sterilisasi resmi diberlakukan pada Senin (20/7/2026). Rio menargetkan agar setiap orang, kendaraan, dan aktivitas di kawasan pelabuhan dapat terpantau secara menyeluruh. "Teridentifikasi, terverifikasi dan termonitor dengan baik," ujarnya.
Program ini merupakan bagian dari transformasi operasional ASDP untuk memperkuat pengelolaan kawasan pelabuhan sebagai objek vital transportasi nasional. Melalui penerapan sistem registrasi digital, teknologi pengenalan wajah atau face recognition, pengendalian akses berbasis zonasi, hingga sistem satu pintu atau one gate system, ASDP menghadirkan tata kelola kawasan yang lebih aman, transparan, dan akuntabel. Transformasi ini sekaligus diarahkan untuk membangun budaya operasional yang disiplin, efisien, dan berorientasi pada keselamatan, dengan mengacu pada Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran serta Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 91 Tahun 2021 tentang Zonasi Kawasan Pelabuhan Penyeberangan.
Rio menambahkan, sterilisasi pelabuhan menjadi fondasi penting menuju keunggulan operasional yang akan memperkuat keandalan layanan penyeberangan secara nasional. Ia menegaskan pelabuhan yang tertib akan melahirkan operasi yang lebih aman dan andal ke depannya. "Memberikan pengalaman terbaik bagi masyarakat pengguna jasa," ucapnya.
Corporate Secretary ASDP, Windy Andale, menyebut sosialisasi menjadi tahapan krusial untuk membangun pemahaman bersama sebelum kebijakan ini diterapkan secara penuh di lapangan. Ia menegaskan transformasi berskala besar seperti ini hanya bisa berjalan optimal jika seluruh pemangku kepentingan memiliki pemahaman dan komitmen yang sama. Windy menekankan sterilisasi pelabuhan tidak dimaksudkan untuk membatasi aktivitas masyarakat, melainkan membangun budaya baru yang mengutamakan keselamatan, keamanan, kedisiplinan, dan pelayanan prima, sehingga dengan kolaborasi regulator, operator kapal, aparat keamanan, dan seluruh mitra kerja. (NAD)