JAKARTA, AFU.ID - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, membuka kemungkinan pemerintah menurunkan harga BBM non subsidi Pertamax pada pekan depan. Pernyataan itu dia sampaikan menanggapi pertanyaan para wartawan terkait mulai stabilnya harga minyak dunia pada pekan-pekan ini.
Bahlil mengatakan pemerintah selama beberapa bulan terakhir tidak menaikkan harga Pertamax meski harga minyak mentah dunia sempat melonjak. Karena itu dia meminta masyarakat untuk melihat pergerakan harga minyak dunia secara menyeluruh sebelum mengambil kesimpulan.
"Kita lihat aja (nanti)," kata Bahlil saat ditanya apakah harga Pertamax akan turun pekan depan di Gedung DPR RI, Senin (29/6/2026).
"Teman-teman media juga harus fair dong. Pada saat harga minyak lagi naik, dua bulan lebih hampir tiga bulan kan enggak kita naikkan. Masa baru naik dua minggu hampir tiga minggu, teman-teman sudah tanya itu (penurunan harga)," ujar Bahlil menambahkan.
Harga minyak dunia memang cukup stabil saat ini dibandingkan saat awal perang di Timur Tengah pecah, di mana harga minyak sempat tembus US$100 per dolar AS. Pagi ini, Selasa (30/6/2026), harga minyak mentah Brent tercatat US$72,57 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) di posisi US$70-US$71 per barel.
Meski sempat anjlok 10,6% pada pekan lalu, harga minyak di awal pekan ini kembali ditutup menguat sekitar 1% hingga 2%. Kondisi ini dipicu oleh tensi yang kembali menghangat setelah adanya serangan balasan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, yang menggarisbawahi rapuhnya kesepakatan perdamaian sementara kedua negara.
Meskipun jalur logistik vital di Selat Hormuz mulai dibuka kembali dan ekspor Teluk Persia pulih hingga 75%, para analis mengingatkan bahwa pemulihan total masih terhambat risiko keamanan, isu ranjau air, serta kesiapan perusahaan asuransi kapal.
"Tidak setiap barel akan keluar dari Teluk dalam satu atau dua minggu ke depan. Selama situasinya berisiko, siapa pun yang memiliki kapal berisiko kapalnya diserang saat melewati selat," kata Bob Yawger, Direktur Futures Energi di Mizuho.
Jika kondisi stabil ini terjaga, pengamat ekonomi energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi, memperkirakan harga Pertamax semestinya berpotensi turun pada periode evaluasi Juli ini. Penurunan ini dinilai wajar sebagai respons atas meredanya kelangkaan pasokan global setelah Iran melonggarkan blokade di Selat Hormuz. "Mestinya, awal Juli ini Pertamax akan diturunkan harganya," kata Fahmy.
Namun, ia juga menggarisbawahi bahwa perundingan AS-Iran yang masih sangat dinamis akan membuat harga minyak terus berfluktuasi. "Tetapi khusus untuk Indonesia, kalau harga Pertamax di atas harga pasar ketika dievaluasi, maka pemerintah harus menurunkannya," jelasnya.
Sinyal positif juga datang dari sektor keuangan. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai bahwa terbukanya peluang perdamaian antara AS dan Iran membawa angin segar bagi perekonomian domestik. Jika stabilitas geopolitik terwujud, harga minyak yang melandai tidak hanya akan menurunkan harga BBM, tetapi juga memperkuat nilai tukar rupiah, membuat biaya dana (cost of fund) lebih kompetitif, dan menggairahkan iklim investasi.
Kendati peluang penurunan harga terbuka, Kementerian ESDM memilih untuk tetap waspada dan tidak gegabah. Hubungan geopolitik di Timur Tengah yang bergejolak membuat pemerintah harus terus mencari alternatif sumber energi guna mengamankan pasokan nasional.
"Optimistis harus, namun langkah antisipatif juga harus dilakukan," tegas Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia.
Evaluasi harga BBM nonsubsidi yang biasa dilakukan badan usaha setiap awal bulan akan menjadi penentu, apakah pelandaian harga minyak dunia bulan ini akan langsung dirasakan oleh kantong konsumen di dalam negeri pada awal Juli nanti.
MAR