Jakarta, AFU.ID – Peta politik menuju Pemilu 2029 memang masih abu-abu. Tetapi arahnya bisa dibaca dari level kekompakan partai koalisi pendukung Prabowo-Gibran. Hampir semua partai besar masih terlihat tegak lurus. Koalisi ini masih menguasai mayoritas kursi di DPR, peluang munculnya poros penantang dinilai semakin mengecil.
Melihat konfigurasi tersebut, pengamat politik Adi Prayitno menilai hanya satu partai yang masih memiliki kapasitas sekaligus keberanian untuk membangun poros alternatif menghadapi Prabowo pada Pilpres 2029, yakni PDI Perjuangan (PDIP).
"Per hari ini yang punya potensi bikin blok baru bisa berhadapan dengan Pak Prabowo, tak lain dan tak bukan, the one and only, PDIP," kata Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia (PPI) itu dalam wawancara Akbar Faizal Uncensored (AFU), Selasa (1/7/2026).
Pengamatan Adi bukan tanpa alasan. Secara politik, hampir seluruh partai parlemen kini menjadi bagian dari pemerintahan. Gerindra sebagai partai presiden memimpin koalisi yang juga diisi Golkar, PAN, Demokrat, PKB, NasDem, PPP, hingga PSI. Melihat komposisi seperti itu, hampir tidak ada kekuatan politik besar yang punya insentif meninggalkan pemerintahan untuk membangun poros baru.
Menurut Adi, status Prabowo sebagai petahana juga menjadi faktor penting. Pengalaman politik Indonesia menunjukkan bahwa partai-partai cenderung memilih berada di sekitar kekuasaan dibanding mengambil risiko menjadi penantang. "Potensi ada, tapi probabilitasnya sulit. Banyak yang menghitung, untuk apa bertanding kalau ujung-ujungnya sudah merasa akan kalah," ujarnya.
Situasi itu semakin menarik setelah Mahkamah Konstitusi menghapus ambang batas pencalonan presiden (presidential threshold). Secara hukum, setiap partai peserta pemilu nantinya dapat mengusung pasangan calon sendiri. Namun, menurut Adi, terbukanya peluang konstitusional belum tentu diikuti keberanian politik. "Yang punya potensi ada, tapi yang punya nyali belum tentu banyak," katanya.
Dalam pandangannya, PDIP berada pada posisi yang berbeda dibanding partai lain. Meski tidak masuk kabinet, partai berlambang banteng itu tetap menjadi salah satu kekuatan terbesar di DPR, memiliki jaringan politik yang kuat di daerah, serta pengalaman panjang menghadapi kontestasi nasional, baik sebagai partai pemerintah maupun oposisi.
Faktor lain yang membuat PDIP dinilai lebih leluasa adalah posisinya yang berada di luar kabinet. Berbeda dengan partai-partai koalisi yang harus menjaga stabilitas pemerintahan, PDIP memiliki ruang politik lebih luas untuk menentukan arah menjelang 2029, apakah tetap menjadi penyeimbang atau berubah menjadi oposisi penuh.
Adi juga menilai partai-partai lain saat ini justru lebih realistis mengincar posisi di dalam koalisi, termasuk peluang mengusung calon wakil presiden mendampingi Prabowo, ketimbang membentuk blok tandingan. "Kalau bicara di atas kertas, semua bisa maju. Tapi kalau bicara realitas politik hari ini, yang punya potensi bikin blok baru ya tinggal PDIP," ujarnya.
Meski demikian, Adi mengingatkan bahwa peta politik masih sangat dinamis. Menurutnya, pembentukan koalisi menuju Pilpres 2029 baru akan benar-benar menghangat setelah tahapan pemilu dimulai dan setiap partai mulai menghitung peluang elektoralnya.
Untuk saat ini, kata dia, belum terlihat kekuatan politik lain yang menunjukkan kesiapan keluar dari orbit pemerintahan dan mengambil posisi sebagai penantang Prabowo. (EER)