JAKARTA, AFU.ID - "Yaa Allah… Yuk, mumpung tahun baru, mumpung waktunya hijrah ke kondisi yang lebih baik. Yuk bisa yuk…" demikian tulis akun @Bintu__Baba di media sosial, sembari mengutip petuah religius tentang tata krama bicara perempuan yang disebutnya bersumber dari seorang tokoh bernama "Ustazah Hajar". Bagi ribuan jemaah digital seperti @Bintu__Baba, sosok Nia Hajar adalah oase kesejukan di jagat maya.
Dengan paras cantik, lesung pipi yang khas saat tersenyum, dan jilbab yang anggun, ia kerap membagikan video ceramah singkat, motivasi Islami, hingga ajakan memperbanyak shalawat melintasi fyp (for you page) TikTok. Tak sedikit warganet yang terkesima hingga menjadikannya status WhatsApp atau membagikan ulang videonya.
Kepopulerannya bukan main-main. Berdasarkan data teranyar, akun TikTok @nia.hajar_s berhasil meraup hingga 864 ribu pengikut dengan total kedahsyatan 9,8 juta (bahkan ada yang menyebut 10 juta) tanda suka (likes), meski akun tersebut sama sekali tidak mengikuti akun lain alias 0 following. Namun, di balik tutur kata menawan yang dinilai merasuk ke kalbu itu, ada juga tanya tanya besar di kepala netizen. Siapakah sosok sang ustazah @nia.hajar_s ini?
Hal itulah yang saat ini ramai diperbincangkan di media sosial. Keberadaan atau tepatnya keaslian sang ustazah, mulai dipertanyakan setelah pengguna Threads dengan akun @khairulanuarbasri (yang kemudian viral dibagikan ulang oleh akun @AkatsukiAlpha88) mengunggah kegelisahannya setelah mengamati konten Nia Hajar lebih jeli.
Awalnya, ia mengaku ikut terpesona. "Kali pertama saya melihat video dari akaun ini, mata saya terpesona. Sudah la wajah ustazahnya cantik, lesung pipitnya manis dan menarik, bahasa Indonesianya juga menawan," tulisnya, dikutip Kamis (25/6/2026).
Kecurigaan muncul saat ia mendengarkan "Ustazah Hajar" membacakan ayat Al-Qur'an. Awalnya, ia mengira kekeliruan pelafalan yang terdengar adalah kesalahan manusiawi yang biasa. Namun, semakin banyak video yang diputar, kejanggalan yang ditemukan justru semakin fatal dan tidak bisa dimaafkan untuk ukuran seorang pendakwah.
Beberapa temuan fatal yang diuraikan akun @khairulanuarbasri atas akun dakwah @nia.hajar_s di antaranya adalah huruf dan baris (harakat) ayat bertukar sesuka hati. Kemudian, potongan ayat Al-Qur'an yang awalnya terdengar benar, namun di tengahnya terindikasi merupakan rekaan. Berikutnya, adanya kata-kata dalam ayat yang sengaja ditambah atau dibuang.
Ada pula kejanggalan berupa rujukan nama surah dan nomor ayat yang tidak akurat alias "asal tebak". Kemudian sering terjadi kesalahan penulisan teks lafaz ayat Al-Qur'an secara visual.
Fakta ini dipertegas oleh akun netizen lain seperti @PadjadjaranTea yang menulis secara blak-blakan, "Akun Nia Hajar ini 100% AI. She even never existed (Dia bahkan tidak pernah ada). Udah ada yang debunked kalau video² ngajinya bahkan gak bener sama sekali," ujar akun tersebut.
Fenomena "Dakwah Full AI" beserta seluruh penonton buatan di dalamnya langsung memicu keresahan besar di kalangan warganet dan pakar digital. Akun edukasi @MiskinTV_ ikut merangkum sejumlah poin kritis mengapa fenomena ini berbahaya.
Pertama, teknologi rekayasa visual yang digunakan luar biasa realistis, sehingga menjebak jemaah digital yang awam dan membuat mereka mengira sedang mendengarkan manusia asli. Kedua, esensi dakwah sejatinya bukan sekadar teks kaku yang dibaca oleh algoritma komputer, melainkan transfer nilai, keteladanan, moral, serta pengalaman hidup dari ulama yang nyata.
Hal yang paling mengkhawatirkan adalah absennya tanggung jawab moral. "Jika terjadi kesalahan fatal dalam penafsiran, pengutipan hadis, atau teks kitab suci di dalam video, tidak ada sosok manusia nyata yang dapat dimintai pertanggungjawaban atau klarifikasi," tulis @MiskinTV_.
Masyarakat kini diimbau untuk lebih kritis dan tidak mudah terpedaya oleh konten keagamaan yang tampak menarik secara visual di media sosial, sebelum memverifikasi keaslian identitas sang pembawa pesan. Akun @AkatsukiAlpha88 dengan tegas menyatakan agar netizen berhati-hati dengan akun ustazah AI ini.
"Itu belum lagi dipastikan kesahihan konten dari sudut hadith dan kata-kata ulamak. Saya yakin, jika disemak dengan teliti, ada banyak lagi kesalahan yang akan timbul. Akaun TikTok ini diikuti oleh hampir 760,000 orang dan menerima like daripada 8.5 juta orang. Sudah pasti ia telah dikongsi oleh sejumlah manusia yang tidak terkira banyaknya. Hati-hati gais. Jangan mudah terpedaya dengan konten yang menarik semata-mata," tulisnya.
MAR