Jakarta, AFU.ID — Pemerintah Indonesia memberikan penjelasan atas kritik yang dilontarkan mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal terkait keputusan Indonesia yang semula hanya diwakili Duta Besar RI untuk Iran dalam rangkaian upacara pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Kementerian Luar Negeri (Kemlu) menyatakan keputusan tersebut diambil karena keterbatasan waktu serta kesibukan sejumlah pejabat negara.
Meski begitu, Kemlu menegaskan bahwa Indonesia tetap akan mengirim delegasi resmi pada prosesi pemakaman utama yang dijadwalkan berlangsung 9 Juli 2026. Kritik tersebut pertama kali disampaikan Dino melalui akun Instagram pribadinya. Ia mempertanyakan konsistensi pelaksanaan politik luar negeri Indonesia yang menganut prinsip bebas dan aktif setelah pemerintah tidak mengirimkan delegasi tingkat tinggi ke rangkaian penghormatan bagi Khamenei.
Dino mengaku heran karena, menurut informasi yang diterimanya, pemerintah Iran telah berupaya mengundang Indonesia untuk mengirimkan delegasi resmi. Namun, undangan tersebut dinilai tidak mendapat respons sebagaimana mestinya sehingga Indonesia akhirnya hanya diwakili oleh Duta Besar RI di Teheran. "Akhirnya, yang hadir hanya Dubes RI di Teheran yang dianggap oleh Teheran sebagai sikap menyepelekan undangan ini," tulis Dino.
Ia membandingkan sikap Indonesia dengan sejumlah negara lain yang mengirimkan pejabat tinggi ke Teheran, seperti Arab Saudi, Qatar, Turki, Oman, Pakistan, Kazakhstan, Rusia, China, India, Malaysia, dan Bangladesh. Bahkan, menurut Dino, Pakistan mengirimkan delegasi setingkat presiden. "Indonesia sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia satu-satunya yang absen mengirim delegasi," katanya.
Dalam unggahannya, Dino mempertanyakan apakah keputusan tersebut mencerminkan mulai lunturnya politik luar negeri bebas aktif Indonesia. Ia juga mempertanyakan apakah pemerintah bersikap terlalu berhati-hati terhadap Amerika Serikat atau justru persoalan tersebut disebabkan lemahnya tata kelola pengambilan keputusan di lingkungan birokrasi. "Apakah ini berarti polugri 'bebas aktif' kita mulai luntur karena Indonesia takut atau sungkan terhadap Amerika? Has 'fear' become a factor in Indonesian foreign policy?" tulisnya.
Menurutnya, persoalan itu juga bisa mencerminkan lemahnya manajemen sistem politik luar negeri Indonesia, misalnya apabila surat undangan berhenti di tingkat birokrasi tanpa adanya keputusan dari pejabat yang berwenang. Ia menilai setidaknya Indonesia masih memiliki opsi mengirimkan Wakil Menteri Luar Negeri yang membidangi urusan dunia Islam, Anis Matta, apabila Menteri Luar Negeri berhalangan hadir.
Sebelum kritik Dino mencuat, Kementerian Luar Negeri telah lebih dahulu menjelaskan bahwa Indonesia diwakili Duta Besar RI untuk Iran, Rolliansyah Soemirat. Juru Bicara Kemlu Yvonne Mewengkang mengatakan pemerintah Iran memang mengundang Indonesia untuk menghadiri rangkaian penghormatan kepada Ayatollah Ali Khamenei. "Pemerintah RI telah menyampaikan bahwa Indonesia akan diwakili oleh Duta Besar RI di Tehran," kata Yvonne dalam keterangannya pada Sabtu (4/7/2026).
Ia menjelaskan Rolliansyah menghadiri acara penghormatan dan doa bersama bagi jenazah Khamenei di Grand Mosalla, Teheran, pada 4 Juli waktu setempat. Menurut Yvonne, berdasarkan informasi pemerintah Iran, rangkaian penghormatan berlangsung pada 3 hingga 9 Juli 2026 di sejumlah kota, sedangkan prosesi pemakaman dijadwalkan berlangsung di Kota Mashhad pada 9 Juli.
Menteri Luar Negeri Sugiono kemudian memberikan penjelasan mengenai keputusan pemerintah yang semula hanya mengirimkan duta besar. Katanya, pemerintah sebenarnya telah menerima undangan dari Iran. Namun, pada saat bersamaan Indonesia sedang mempersiapkan sejumlah kunjungan kenegaraan sehingga para pejabat yang berwenang memiliki agenda yang tidak memungkinkan untuk menghadiri prosesi tersebut.
"Karena pada saat itu juga kita melakukan persiapan kunjungan-kunjungan kenegaraan di Indonesia, dan beberapa pejabat kunci juga memiliki kesibukan yang tidak memungkinkan untuk ke sana," kata Sugiono di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Senin (6/7/2026).
Sugiono juga mengungkapkan pemerintah Iran baru memberikan akses bagi pejabat yang tingkatannya lebih tinggi dari duta besar pada 2 Juli 2026. Menurut dia, pemberitahuan tersebut datang ketika pemerintah Indonesia telah menetapkan Duta Besar RI sebagai perwakilan resmi sehingga tidak tersedia cukup waktu untuk mengganti delegasi.
Meski demikian, Sugiono memastikan Indonesia tetap akan mengirimkan delegasi resmi pada prosesi pemakaman utama Ayatollah Ali Khamenei yang dijadwalkan berlangsung pada 9 Juli 2026. Delegasi Indonesia akan dipimpin langsung oleh dirinya bersama Ketua MPR Ahmad Muzani. "Ini kami masih menunggu jawaban waktu dan tempat di mana kita bisa menghadiri upacara pemakaman tersebut. Karena seperti kita ketahui juga bahwa ada prosesi yang dilakukan terkait dengan rangkaian acara dari pemakaman Supreme Leader dari Iran," ujar Sugiono.
Prosesi penghormatan kepada Ayatollah Ali Khamenei berlangsung pada 4 hingga 9 Juli 2026 dengan mengusung tema "We Must Rise". Rangkaian acara dimulai di Musalla Imam Khomeini, Teheran, kemudian berlanjut ke Qom, Najaf, Karbala, hingga Mashhad sebelum prosesi pemakaman terakhir dilaksanakan di kompleks Makam Imam Reza.
Sejumlah negara mengirimkan pejabat tinggi untuk menghadiri prosesi tersebut. Pakistan mengutus Perdana Menteri Shehbaz Sharif, Panglima Angkatan Darat Asim Munir, dan Menteri Dalam Negeri Mohsin Naqvi. Tajikistan diwakili Presiden Emomali Rahmon, Armenia mengirim Perdana Menteri Nikol Pashinyan, sedangkan Turki mengutus Wakil Presiden Cevdet Yilmaz.
India mengirim Wakil Menteri Luar Negeri Pabitra Margherita bersama sejumlah tokoh politik, Rusia mengutus Wakil Ketua Dewan Keamanan Dmitry Medvedev, China mengirim Wakil Ketua Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional He Wei, Afghanistan mengutus Menteri Luar Negeri Amir Khan Muttaqi dan Wakil Perdana Menteri Abdul Ghani Baradar, sementara Bangladesh diwakili Ketua Parlemen Hafiz Uddin Ahmed.
Ayatollah Ali Khamenei meninggal dunia pada usia 86 tahun setelah tewas dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026. Selain Khamenei, empat anggota keluarganya juga menjadi korban dalam serangan tersebut. Prosesi pemakaman yang semula dijadwalkan berlangsung pada Maret ditunda beberapa bulan karena situasi keamanan akibat konflik bersenjata yang masih berlangsung. (EER)