JAKARTA, AFU.ID — Prosesi salat jenazah massal mantan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, di Masjid Agung Imam Khomeini, Teheran, diwarnai seruan balas dendam terhadap Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Di hadapan jutaan pelayat yang memadati lokasi, seruan tersebut menggema ketika rangkaian penghormatan terakhir bagi Khamenei dan sejumlah anggota keluarganya berlangsung.
Sebelum salat jenazah dimulai pada Minggu (5/7/2026) waktu setempat, penyair Mohammad Rasouli membacakan puisi dari mimbar utama upacara. Dalam pembacaan puisinya, Rasouli menyerukan pembalasan atas kematian Ali Khamenei dengan menyebut pembunuhan terhadap Trump sebagai sebuah tanggung jawab. "Mulai sekarang, kain kafan adalah pakaian kita. Aku bersumpah demi darahmu: membunuh Trump adalah tanggung jawab kita semua," kata Rasouli.
Rasouli kemudian menyebut Trump tidak lagi layak merasa aman dan mempertanyakan mengapa Presiden Amerika Serikat itu masih hidup. Ucapannya disambut sorakan sebagian pelayat yang meneriakkan slogan balas dendam dan penolakan terhadap kompromi, "Tanpa kompromi, tanpa menyerah, hanya balas dendam."
Salat jenazah kemudian dipimpin ulama senior Ayatollah Ja'far Sobhani. Doa dipanjatkan untuk Ali Khamenei beserta sejumlah anggota keluarganya yang turut tewas dalam serangan udara Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026. Seusai prosesi di Teheran, jenazah dijadwalkan diberangkatkan menuju Kota Qom, kemudian ke dua kota suci di Irak, sebelum dimakamkan di Mashhad, kota kelahirannya.
Upacara tersebut turut dihadiri sejumlah pejabat tinggi Iran, termasuk para petinggi militer dan politik. Tiga putra Ali Khamenei, yakni Mustafa, Massoud, dan Meysam, tampak berada di sisi peti jenazah. Kehadiran para elite negara secara terbuka dinilai menunjukkan meningkatnya rasa aman setelah gencatan senjata antara Iran dengan Amerika Serikat mengurangi risiko serangan selama prosesi berlangsung.
Di tengah besarnya perhatian publik terhadap pemakaman itu, Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, kembali tidak terlihat di hadapan publik. Otoritas Iran sebelumnya menyatakan Mojtaba mengalami luka pada hari pertama perang, namun membantah adanya cedera permanen. Hingga kini, ia juga belum menyampaikan pidato ataupun pesan resmi sejak ditunjuk menggantikan ayahnya.
Jutaan warga Iran menghadiri pemakaman tersebut sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada Ali Khamenei. Sejumlah pelayat mengaku rela menempuh perjalanan jauh dan bermalam di masjid maupun sekolah agar dapat mengikuti prosesi. Di tengah suasana berkabung, sebagian warga menyampaikan kecaman terhadap serangan Amerika Serikat dan Israel, sekaligus menegaskan bahwa perbedaan pandangan politik di dalam negeri tidak mengurangi tekad mereka untuk mempertahankan Iran dari ancaman luar. (RAI)