JAKARTA, AFU.ID — Peti jenazah mendiang Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tiba di Najaf, Irak, setelah rangkaian pemakaman besar di Iran. Kedatangan jenazah itu mengubah dua kota suci Syiah, Najaf dan Karbala, menjadi panggung duka politik Iran di luar negeri. Prosesi ini berlangsung di tengah masa transisi kekuasaan Teheran setelah Khamenei tewas dalam serangan AS-Israel pada 28 Februari 2026.
Pesawat yang membawa peti jenazah Khamenei tiba di Bandara Internasional Najaf pada Selasa malam. Presiden Iran Masoud Pezeshkian hadir dalam penyambutan tersebut. Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi dan sejumlah pejabat Irak juga menyambut kedatangan jenazah.
Najaf menjadi titik penting karena kota itu merupakan pusat keagamaan utama Syiah. Setelah dari Najaf, jenazah Khamenei dijadwalkan dibawa ke Karbala untuk prosesi lanjutan. Rangkaian pemakaman kemudian akan berakhir di Mashhad, Iran, pada akhir pekan ini.
Pemerintah Irak menetapkan Rabu sebagai hari libur nasional untuk mengatur prosesi pemakaman. Keputusan itu diambil karena massa besar diperkirakan datang dari Irak, Iran, dan negara-negara sekitar. Aparat Irak juga memperketat pengamanan di Najaf dan Karbala.
Pemakaman Khamenei tidak hanya menjadi upacara keagamaan. Bagi Iran, prosesi ini juga menjadi cara menunjukkan kesinambungan kekuasaan setelah pemimpin tertingginya wafat. Pemerintah Iran berusaha menampilkan dukungan publik di tengah tekanan perang, sanksi, dan ketidakpastian suksesi.
Kehadiran jenazah Khamenei di Irak juga menunjukkan kuatnya hubungan politik dan keagamaan Iran dengan kelompok-kelompok Syiah di kawasan. Namun, prosesi itu berlangsung saat pengaruh Iran sedang diuji. Sejumlah laporan menyebut daftar tamu pemakaman lebih banyak diisi kelompok sekutu Iran daripada pemimpin besar dunia.
Pezeshkian dijadwalkan bertemu pejabat Irak selama berada di negara tersebut. Pertemuan itu diperkirakan membahas keamanan perbatasan, hubungan politik, dan stabilitas kawasan setelah kematian Khamenei. Pemerintah Iran belum menyampaikan rincian hasil pertemuan itu.
Khamenei memimpin Iran selama lebih dari tiga dekade. Kematiannya membuka babak baru dalam politik Teheran dan hubungan Iran dengan kawasan. Prosesi di Najaf dan Karbala menjadi bagian dari upaya Iran menjaga pengaruh simbolik di tengah masa transisi tersebut. (RHU)