JAKARTA, AFU.ID — Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC menyatakan siap terjun ke medan tempur jika Amerika Serikat, Israel, atau sekutu mereka kembali menyerang Iran. Pernyataan itu muncul setelah perundingan lanjutan Amerika Serikat dan Iran di Swiss batal digelar.
IRGC menyatakan pasukannya siap bertindak di darat, laut, udara, dan ranah perang hibrida jika musuh kembali memaksakan tuntutan dan melanggar hak rakyat Iran. Pernyataan itu disampaikan ketika masa depan kesepakatan sementara Washington dan Teheran kembali dibayangi ketidakpastian.
“Para pejuang Korps Garda Revolusi Islam, baik di darat, laut, maupun udara, serta di seluruh ranah peperangan hibrida, siap bertindak atas instruksi sekecil apa pun,” demikian pernyataan IRGC yang dikutip media pemerintah Iran, Jumat (19/6/2026).
IRGC juga menyatakan siap menimpakan kekalahan yang lebih besar terhadap pihak yang kembali melakukan agresi. Pernyataan itu memperlihatkan sikap keras aparat militer Iran di tengah proses diplomasi yang belum stabil.
Perundingan Amerika Serikat dan Iran sebelumnya dijadwalkan berlangsung di resor Burgenstock, Swiss, pada Jumat. Namun, Swiss menyatakan pembicaraan itu tidak berlangsung sesuai rencana setelah Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance batal berangkat.
Pertemuan tersebut semula disiapkan untuk menindaklanjuti nota kesepahaman sementara antara Washington dan Teheran. Dokumen itu memberi waktu 60 hari bagi kedua pihak untuk merundingkan kesepakatan akhir, termasuk soal program nuklir Iran dan sanksi Amerika Serikat.
Pembatalan perundingan membuat kesepakatan sementara itu kembali rapuh. Iran disebut masih menunggu tanda kepatuhan Amerika Serikat, sementara sebagian pihak di Washington dan Israel juga meragukan isi kesepakatan tersebut.
Ketegangan kawasan juga belum mereda. Serangan Israel di Lebanon dan respons kelompok bersenjata yang didukung Iran membuat jalur diplomasi AS-Iran semakin sulit bergerak.
Di sisi lain, isu Selat Hormuz masih menjadi titik sensitif. Kesepakatan sementara memuat pengaturan pembukaan kembali jalur pelayaran, tetapi keamanan kawasan belum pulih sepenuhnya.
Reuters juga melaporkan kekhawatiran soal jaringan IRGC di kawasan belum tersentuh secara penuh dalam kesepakatan sementara. Isu proksi Iran di Irak dan negara Teluk tetap menjadi sumber ketegangan antara Teheran, Washington, dan sekutu Amerika Serikat.
Pernyataan IRGC menunjukkan bahwa perundingan yang batal tidak hanya berdampak pada meja diplomasi. Kegagalan menjaga momentum pembicaraan dapat menghidupkan kembali ancaman militer di kawasan yang baru saja mencoba keluar dari konflik.
Kesepakatan AS-Iran belum bisa dibaca sebagai jalan damai yang kokoh. Selama isu nuklir, sanksi, Selat Hormuz, dan jaringan proksi belum diselesaikan, ancaman perang masih dapat kembali muncul setiap kali diplomasi tersendat. (RHU)