JAKARTA, AFU.ID – Kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran telah diumumkan, namun perjanjian tersebut masih bersifat tentatif dengan sejumlah detail teknis yang belum sepenuhnya diklarifikasi sebelum penandatanganan resmi. Pengumuman kesepakatan dibuat oleh Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif pada Minggu malam waktu setempat setelah perundingan intensif berlangsung dengan mediasi Qatar.
Sharif mengumumkan kedua negara telah sepakat menghentikan seluruh operasi militer secara segera dan permanen. Upacara penandatanganan perjanjian formal dijadwalkan dilaksanakan di Jenewa, Swiss pada Jumat (19/6/2026). Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengonfirmasi pencapaian kesepakatan tersebut melalui platform Truth Social, namun interpretasi isi perjanjian antara kedua belah pihak masih terdapat perbedaan.
Meskipun pengumuman kesepakatan tersebut membangkitkan optimisme di tingkat internasional, kekhawatiran muncul dari berbagai pihak. Pemerintah Iran melalui Wakil Menteri Luar Negeri Kazem Gharibabadi mengonfirmasi kesepakatan mencakup penghentian operasi militer di Iran dan Lebanon, serta pembukaan kembali Selat Hormuz. Akan tetapi, rincian teknis implementasi kesepakatan tersebut masih akan dibahas dalam pertemuan lanjutan di Swiss setelah upacara penandatanganan berlangsung.
Meski demikian, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menyambut kesepakatan sebagai langkah penting untuk mengakhiri perang, namun ia tetap menekankan semua pihak tetap perlu memerhatikan pembukaan Selat Hormuz. Starmer juga menekankan keempat negara meliputi jerman, Inggris, Prancis, dan Italia akan mencabut sanksi relevan jika Iran mengambil langkah-langkah yang jelas dan dapat diverifikasi terkait program nuklirnya. Syarat ini menunjukkan kesepakatan masih diikuti dengan kondisi-kondisi yang belum terbukti akan dipenuhi.
Trump menyatakan akan memberikan otorisasi penuh untuk membuka kembali Selat Hormuz tanpa hambatan, dan mencabut blokade angkatan laut AS yang diberlakukan di jalur pelayaran strategis tersebut. Pembukaan jalur dijadwalkan Jumat bersamaan dengan penandatanganan kesepakatan dan disertai dengan operasi pembersihan ranjau laut. Namun, penundaan atau perubahan jadwal dapat terjadi, mengingat kompleksitas operasi demikian.
Mengapa Kekhawatiran Masih Berjalan?
Kekhawatiran signifikan datang dari kalangan Partai Republik AS. Senator Republik Lindsey Graham, yang dikenal mengambil sikap keras terhadap Iran. Graham mengatakan pihaknya akan mengamati perkembangan negosiasi terkait program nuklir Iran dengan saksama. "Saya akan mengamati ini dengan cermat," ungkap Graham dalam unggahan akun X Graham @LindseyGrahamSC, Senin (15/6). Graham mengungkapkan kekhawatiran terkait interpretasi Iran terhadap kesepakatan mungkin berbeda dari pandangan tim negosiasi Amerika, potensi perbedaan yang dapat menjadi batu loncatan menuju ketegangan lebih lanjut.
Senada, Perdana Menteri Qatar Mohammed bin Abdulrahman Al Thani, yang memediasi perundingan selama berbulan-bulan, menyerukan agar semua pihak berpartisipasi dalam pertemuan lanjutan dengan semangat positif dan konstruktif. Qatar berharap kemajuan yang telah dicapai dapat dipertahankan. "Kami optimis, namun tetap realistis," kata Al Thani dalam unggahannya di akun x resminya @MBA_AIThani_, Senin (15/6).
Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan menyambut baik kerangka kerja kesepakatan namun mengingatkan dengan eksplisit adanya potensi gangguan. "Semua pihak harus tetap waspada terhadap bentuk provokasi yang bisa merusak kesepakatan sebelum hari penandatanganan berlangsung," tegas Erdogan dalam akun X nya @RTErdogan.
Lebih lanjut, Perdana Menteri Prancis, Emmanuel Macron mendesak seluruh pihak segera mengeksekusi nota kesepakatan secara utuh. Desakan tersebut mengisyaratkan adanya keraguan apakah pihak-pihak akan sepenuhnya mematuhi kesepakatan setelah penandatanganan. Tak hanya itu, Presiden Jepang, Sanae Takaichi juga menekankan pentingnya jaminan keamanan jalur pelayaran internasional di kawasan Timur Tengah. Hal tersebut ditekankan karena melihat kesepakatan saat ini belum memberikan kepastian penuh.
Meski demikian, konflik antara AS dan Iran yang berlangsung berbulan-bulan telah mengganggu distribusi minyak dan gas melalui Selat Hormuz, jalur strategis yang mengangkut sekitar 20 persen pasokan minyak mentah dunia. Kesepakatan ini diharapkan dapat meredakan ketegangan dan menormalisasi arus energi global, namun implementasi sepenuhnya masih menunggu penandatanganan resmi pada 19 Juni mendatang serta kejelasan mengenai program nuklir Iran yang tetap menjadi isu sensitif bagi komunitas internasional. (NAD)