AFU.id

Update Krisis Migran di Afrika Utara-Spanyol: 90 Orang Tewas, Bentrok dengan Warga Lokal hingga Kehabisan Bekal

Bagikan:

Penulis: Erik Erfinanto

Ringkasan Berita

Sebanyak 90 imigran tewas dalam insiden di Ceuta, wilayah kantong Spanyol di Afrika Utara, setelah sekitar 60 ribu orang berusaha memasuki daerah tersebut dari Maroko dalam satu hari, yang merupakan gelombang migrasi terbesar selama krisis imigran di Eropa. Kerusuhan terjadi saat migran merangsek masuk, memaksa pemerintah Spanyol mengerahkan tambahan unit polisi dan militer untuk mengamankan perbatasan, sementara situasi di kawasan tersebut semakin tegang dengan warga lokal yang melakukan tindakan kekerasan terhadap imigran dan penutupan beberapa toko untuk alasan keamanan.

Update Krisis Migran di Afrika Utara-Spanyol: 90 Orang Tewas, Bentrok dengan Warga Lokal hingga Kehabisan Bekal
Krisis Migran di Afrika Utara-Spanyol menwaskan 90 orang pengungsi. (Foto Afuid)

Situasi hampir tak terkendali. Beberapa toko di Ceuta ditutup sementara demi keamanan. Pihak berwenang pun kemudian memperketat pengamanan. Langkah serupa tidak hanya diterapkan di supermarket, tetapi juga di apotek, restoran, dan hotel. Petugas keamanan maupun pegawai hotel memeriksa para pengunjung di pintu masuk dan meminta informasi pribadi pengunjung sebelum diizinkan masuk.

Seorang blogger Spanyol, David Santos, mengunggah sebuah video yang merekam aksi kejar-kejaran warga dan para imigran di jalanan melalui platform X. Ia menyebut bahwa orang-orang Maroko yang telah menetap di kawasan El Príncipe ikut mengusir para migran yang berusaha memasuki Ceuta secara ilegal.

Media lokal Ceuta Actualidad melaporkan adanya pembentukan sebuah grup WhatsApp bernama "Viva España" yang kini telah memiliki lebih dari 800 anggota. Menurut laporan media tersebut, sejumlah anggota grup mengusulkan untuk melakukan pergerakan dan "memukuli para migran dengan tongkat".

Presiden Partai Andalusi Dris Mohamed mengatakan kepada stasiun radio Cadena SER bahwa sekelompok pemuda kedapatan memukuli orang-orang yang baru saja memasuki Ceuta. Ia pun mengecam tindakan main hakim sendiri tersebut, meski di sisi lain ia juga memaklumi keresahan penduduk setempat. Stasiun radio tersebut juga melaporkan bahwa sejumlah toko terpaksa ditutup sementara karena alasan keamanan. (EER)

Berita Terkait

Pilihan Redaksi