Nikmati fitur lengkap distribusi bias, newsletter, pemberitahuan berita
Update Krisis Migran di Afrika Utara-Spanyol: 90 Orang Tewas, Bentrok dengan Warga Lokal hingga Kehabisan Bekal
Bagikan:
Penulis: Erik Erfinanto
Ringkasan Berita
Sebanyak 90 imigran tewas dalam insiden di Ceuta, wilayah kantong Spanyol di Afrika Utara, setelah sekitar 60 ribu orang berusaha memasuki daerah tersebut dari Maroko dalam satu hari, yang merupakan gelombang migrasi terbesar selama krisis imigran di Eropa. Kerusuhan terjadi saat migran merangsek masuk, memaksa pemerintah Spanyol mengerahkan tambahan unit polisi dan militer untuk mengamankan perbatasan, sementara situasi di kawasan tersebut semakin tegang dengan warga lokal yang melakukan tindakan kekerasan terhadap imigran dan penutupan beberapa toko untuk alasan keamanan.
Krisis Migran di Afrika Utara-Spanyol menwaskan 90 orang pengungsi. (Foto Afuid)
JAKARTA, AFU.ID - Sebanyak 90 orang imigran meninggal dunia saat sedang melintas masuk ke wilayah kantong Spanyol di Ceuta, Afrika Utara dari wilayah Maroko per Minggu (2/8/2026). 74 jenazah dalam insiden itu ditemukan oleh aparat penegak hukum, sementara 16 jenazah lainnya ditemukan oleh petugas dari Maroko.
Insiden itu terjadi setelah sekitar 60 ribu orang berbondong-bondong memasuki wilayah Ceuta dari Maroko pada Jumat. Gelombang migrasi itu disebut paling besar selama krisis imigran di Eropa karena terjadi dalam satu hari. Walikota-presiden Ceuta, Juan Jesus Vivas mengatakan, terjadi kerusuhan besar saat gelombang imigran itu mulai merangsek masuk. Pihaknya mengerahkan tambahan unit polisi, Garda Sipil, dan militer dikerahkan.
Ceuta adalah daerah kantong Spanyol di pantai utara Afrika, terletak di perbatasan dengan Maroko. Bersama dengan Melilla, Ceuta membentuk satu-satunya perbatasan darat antara Uni Eropa dan Afrika dan dianggap sebagai salah satu jalur utama migrasi ilegal ke Uni Eropa. Menurut laporan RIA Novosti para migran bersembunyi di bawah jembatan, di atap bangunan, di pantai, taman, saluran pembuangan, dan sejumlah lokasi lainnya.
Ratusan migran dilaporkan masih berada di kawasan pesisir dan jalan-jalan di dekat perbatasan. Mereka tersebar dalam kelompok-kelompok kecil sehingga menyulitkan aparat keamanan untuk menemukan seluruh pendatang ilegal tersebut. Meskipun jumlah personel keamanan telah ditambah, jumlah migran yang berada di jalanan dan kawasan pesisir disebut jauh lebih besar dibandingkan jumlah patroli yang dikerahkan.
Berbekal makanan seadanya, para migran itu mengalami kelelahan. Mereka terlihat meminta-minta makanan dan uang kepada orang yang mereka temui di jalan. Sedangkan warga Ceuta sendiri, memilih menghindari kawasan pesisir di sekitar pos perbatasan Tarajal karena situasi yang masih tegang. Lonjakan jumlah migran ini terjadi sejak awal Juli. Krisis tersebut memicu kerusuhan di sejumlah lokasi di Ceuta. Pemerintah Spanyol kemudian mengerahkan tambahan personel kepolisian, Garda Sipil, dan militer ke wilayah itu.
Situasi hampir tak terkendali. Beberapa toko di Ceuta ditutup sementara demi keamanan. Pihak berwenang pun kemudian memperketat pengamanan. Langkah serupa tidak hanya diterapkan di supermarket, tetapi juga di apotek, restoran, dan hotel. Petugas keamanan maupun pegawai hotel memeriksa para pengunjung di pintu masuk dan meminta informasi pribadi pengunjung sebelum diizinkan masuk.
Seorang blogger Spanyol, David Santos, mengunggah sebuah video yang merekam aksi kejar-kejaran warga dan para imigran di jalanan melalui platform X. Ia menyebut bahwa orang-orang Maroko yang telah menetap di kawasan El Príncipe ikut mengusir para migran yang berusaha memasuki Ceuta secara ilegal.
Media lokal Ceuta Actualidad melaporkan adanya pembentukan sebuah grup WhatsApp bernama "Viva España" yang kini telah memiliki lebih dari 800 anggota. Menurut laporan media tersebut, sejumlah anggota grup mengusulkan untuk melakukan pergerakan dan "memukuli para migran dengan tongkat".
Presiden Partai Andalusi Dris Mohamed mengatakan kepada stasiun radio Cadena SER bahwa sekelompok pemuda kedapatan memukuli orang-orang yang baru saja memasuki Ceuta. Ia pun mengecam tindakan main hakim sendiri tersebut, meski di sisi lain ia juga memaklumi keresahan penduduk setempat. Stasiun radio tersebut juga melaporkan bahwa sejumlah toko terpaksa ditutup sementara karena alasan keamanan. (EER)