JAKARTA AFU.ID — Sebagian besar alat pencitraan medis di rumah sakit Jalur Gaza dilaporkan tidak lagi berfungsi di tengah konflik berkepanjangan sehingga mengancam layanan kesehatan bagi ribuan pasien dan korban luka.
Otoritas kesehatan setempat menyebut kerusakan alat medis serta terhambatnya pasokan suku cadang membuat layanan pemeriksaan dan penanganan pasien di sejumlah rumah sakit berada di ambang kolaps.
Sebanyak 76 persen alat pencitraan medis di rumah sakit Jalur Gaza dilaporkan tidak lagi berfungsi di tengah konflik yang terus berlangsung, sehingga mengancam keselamatan ribuan pasien dan korban luka.
Ibrahim Abbas, direktur Unit Pencitraan Medis di Gaza, Selasa (19/5/2026), menjelaskan layanan pencitraan di rumah sakit yang masih beroperasi di Gaza menghadapi "tantangan serius dan kritis."
Menurut dia, 76 persen alat pencitraan medis tidak lagi berfungsi, sementara 24 persen sisanya merupakan perangkat lama dan usang yang secara teknis sangat sulit untuk dioperasikan.
Pemeliharaan rutin hampir terhenti akibat pembatasan masuknya suku cadang yang diperlukan untuk perbaikan, tuturnya, seraya memperingatkan bahwa layanan pencitraan di seluruh wilayah kantong tersebut dapat kolaps sepenuhnya kapan saja.
Seluruh layanan MRI di Gaza telah terhenti usai sembilan mesin MRI hancur akibat konflik yang masih berlangsung. Sementara itu, hanya ada lima dari 18 pemindai CT di wilayah kantong tersebut yang masih beroperasi, lanjut Abbas.
Dari 88 mesin sinar-X yang tersedia sebelum konflik, hanya 33 yang masih berfungsi, dan dari 16 perangkat pencitraan fluoresensi yang diperlukan dalam prosedur bedah kompleks, tinggal lima yang masih dapat digunakan.
Abbas memperingatkan bahwa gangguan yang terus berlanjut terhadap layanan pencitraan medis menghambat tindakan medis penyelamatan nyawa dan berpotensi kian memperburuk kondisi kesehatan ribuan orang yang terluka dan sakit di Gaza. (ANT/RAI)