JAKARTA, AFU.ID – Prospek ekspor Indonesia pada semester II 2026 diperkirakan melambat dengan pertumbuhan hanya berada di kisaran nol hingga dua persen. Tekanan berasal dari tarif impor Amerika Serikat, harga batu bara dan minyak sawit mentah yang masih melemah, serta risiko pesanan berpindah ke negara pesaing seperti Vietnam dan Meksiko.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai dampak penuh kebijakan tarif AS belum sepenuhnya terlihat pada paruh pertama tahun ini. Importir di negara tersebut masih membutuhkan waktu untuk menyesuaikan pesanan, sehingga tekanan terhadap eksportir Indonesia diperkirakan lebih terasa pada semester kedua.
“Dengan kondisi tersebut, saya memperkirakan pertumbuhan ekspor pada semester kedua akan berada di kisaran nol sampai dua persen, dengan risiko yang cenderung mengarah ke bawah apabila negosiasi tarif dengan Washington tidak menghasilkan pelonggaran,” kata Yusuf saat dihubungi, Jumat (3/7/2026).
Menurut Yusuf, risiko terbesar bukan hanya kenaikan biaya masuk produk Indonesia ke pasar AS, tetapi juga kemungkinan pembeli mengalihkan pesanan ke negara yang dinilai lebih kompetitif. Kondisi ini dapat memukul produk manufaktur yang bergantung pada pasar Amerika, terutama ketika harga komoditas unggulan Indonesia belum sepenuhnya pulih.
Tekanan tersebut sudah tercermin pada kinerja perdagangan Mei. Badan Pusat Statistik mencatat ekspor nonmigas Indonesia mencapai US$22,45 miliar, turun 4,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pelemahan terjadi pada ekspor logam mulia dan perhiasan, bijih logam, terak dan abu, serta besi dan baja.
Meski demikian, Yusuf melihat masih ada penopang bagi ekspor Indonesia. Ekspor nonmigas ke China sepanjang Januari hingga Mei tetap tumbuh 17,7 persen secara tahunan, sementara permintaan terhadap produk turunan nikel berpeluang menjaga pertumbuhan selama pasar global tidak kembali melemah.
Pemerintah saat ini masih bernegosiasi dengan AS agar produk Indonesia mendapat tarif yang lebih kompetitif. Ekspor Indonesia ke AS masih dikenai tarif universal 10 persen hingga akhir Juli, sementara pemerintah mendorong sejumlah komoditas memperoleh tarif nol persen dalam kebijakan berikutnya. (RHU)