AFU.ID - Hanya beberapa hari menjelang perundingan krusial dengan Amerika Serikat di Islamabad, Iran melontarkan manuver strategis yang mengguncang pasar energi global. Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, secara resmi mengumumkan bahwa Teheran memasuki "fase baru" dalam mengendalikan Selat Hormuz, urat nadi utama yang melayani 20% perdagangan minyak dunia.
Pernyataan tegas ini mengemuka di tengah gencatan senjata yang masih sangat rapuh, menyusul konflik bersenjata yang telah berlangsung sejak 28 Februari lalu. Mengklaim kemenangan atas ketegangan ini, Khamenei dengan lantang menyebut momen tersebut sebagai epik "Pertahanan Suci Ketiga" dan menobatkan bangsa Iran sebagai pemenang mutlak.
Ultimatum Ganda Teheran untuk Washington
Mengutip dari Times Now News, dalam upaya negosiasi gencatan senjata, Iran memanfaatkan posisi tawarnya dengan menetapkan dua syarat utama yang agresif kepada Amerika Serikat:
• Pembatasan Kuota Pelayaran Ekstrem: Teheran membatasi jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz maksimal hanya 15 kapal atau tanker per hari.
• Pencairan Aset Kilat: Washington dituntut untuk mencairkan seluruh aset Iran yang dibekukan dalam batas waktu maksimal dua minggu.
Terbuka di Atas Kertas, Lumpuh di Perairan
Meski Iran telah mengumumkan pelonggaran blokade bersyarat, realitas di lapangan menunjukkan situasi yang berbeda. Jalur maritim vital tersebut praktis lumpuh.
Data pelayaran terbaru membeberkan fakta mengejutkan: hanya tujuh kapal yang berhasil melintas dalam 24 jam terakhir. Angka ini terjun bebas dari rata-rata lalu lintas normal yang biasanya disesaki oleh lebih dari 130 kapal setiap harinya. Penurunan drastis ini memicu ketidakpastian mendalam di sektor logistik dan energi global.
Kendali Penuh di Tangan IRGC
Lumpuhnya Selat Hormuz bukan tanpa alasan. Menurut laporan kantor berita Rusia, TASS, pembatasan ini dibarengi dengan birokrasi militer yang ketat.
Setiap perusahaan pelayaran internasional kini wajib meminta persetujuan resmi dari Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) sebelum armada mereka diizinkan berlayar melintasi selat tersebut. Keselamatan dan akses jalur logistik dunia ini kini sepenuhnya berada di bawah kendali dan koordinasi militer Iran, menandai babak baru dari dominasi Teheran di perairan strategis tersebut. (fad/asw)