JAKARTA - AFU.ID, Korea Selatan mengeluarkan pernyataan resmi penyebab ledakan dan kebakaran kapal HMM di Selat Hormuz pada 4 Mei lalu. Kapal berbendera Panama dengan operator dari Korea Selatan ini meledak karena benda-benda terbang.
Kementerian Luar Negeri Korea Selatan, Minggu (10/5/2026) memastikan bahwa hasil investigasi mengonfirmasi bahwa benda-benda terbang tak dikenal menghantam buritan kapal HMM.
Untuk diketahui, kapal MV HMM diserang sekitar pukul 20:40 waktu Korea, Senin (4/5/2026) yang sedang berlabuh di perairan Selat Hormuz, atau di lepas pantai Umm Al Quwain, uni Emirat Arab (UEA).
Akibat serangan itu, bagian mesin kapal meledak yang mengakibatkan kebakaran hebat di lambung kapal. Sebanyak 24 awak kapal, termasuk warga Korsel dan WNI, selamat dalam insiden itu, tanpa korban jiwa.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Korea Selatan, Park Il mengatakan, dua benda terpisah menghantam kapal, hanya berselang sekitar satu menit pada pukul 15:30 waktu setempat. Akibatnya, pelat lambung kapal rusak hingga ke bagian dalam kapal.
Kebakaran di ruang mesin diyakini dipicu oleh serangan pertama dari benda terbang tak dikenal, dengan kobaran api yang dengan cepat membesar setelah benturan kedua.
"Penyebab kebakaran diduga tidak terkait dengan sistem internal kapal," katanya.
Hasil investigas ini didukung tangkapan CCTV adanya benda terbang tak dikenal. Meski begitu, benda itu disebut belum bisa terdeteksi dengan sempurna mengenai jenis, asal, ukuran dan kecepatannya.
"Kemungkinan benda-benda tersebut berupa ranjau atau torpedo tampaknya rendah," katanya.
Klaim AS
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengeklaim Iran ada di balik serangan MV HMM. Pernyataan itu langsung dibantah Iran.
Kedubes Iran di Seoul mengeluarkan pernyataan resmi yang mengatakan negara itu "dengan tegas dan kategoris" membantah keterlibatan militernya dalam insiden tersebut.
Park mengatakan negara itu berencana untuk melakukan analisis lebih lanjut terhadap puing-puing mesin yang ditemukan di lokasi kejadian.
Tampaknya untuk mengidentifikasi benda-benda yang menghantam kapal, sambil menekankan bahwa pemerintah tidak akan menghakimi siapa yang bertanggung jawab atas insiden tersebut saat ini.
Pemerintah akan "menyelidiki secara menyeluruh penyebab insiden tersebut dan mengejar semua kemungkinan."
"Kami mengambil langkah-langkah, termasuk kerja sama dengan komunitas internasional, untuk mencegah terulangnya kejadian serupa dan memastikan keselamatan warga Korea Selatan," kata Park.
Korea Selatan juga sedang mempertimbangkan kemungkinan partisipasi dalam inisiatif yang dipimpin AS, termasuk Maritime Freedom Construct (MFC).
Tepat setelah pengumuman hasil investigasi, Duta Besar Iran untuk Korea Selatan, Saeed Koozechi, tiba di Kementerian Luar Negeri di Seoul.
"Iran dianggap sebagai salah satu pihak terkait, dan duta besar mengunjungi kementerian untuk menerima penjelasan tentang hasil investigasi," kata Park.
"Kami berkomunikasi dengan negara-negara terkait berdasarkan fakta yang telah dikonfirmasi sejauh ini dan akan mengambil langkah-langkah tindak lanjut yang diperlukan," katanya. (EER)