AFU.ID - Langit geopolitik memanas, dan dari mulut Selat Hormuz—jalur sempit yang menentukan denyut energi dunia—lahir sebuah pernyataan yang menggetarkan: tidak semua negara lagi bebas melintas.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, secara terbuka mengumumkan hanya enam negara yang kini dianggap “sahabat” dan dijamin keamanannya untuk melewati jalur vital tersebut. Keenam negara itu adalah China, Pakistan, India, Irak, Bangladesh, dan Rusia. Nama Indonesia tak tercantum—sebuah absensi yang terasa janggal di tengah posisi Indonesia sebagai negara netral dan konsumen energi besar.
Selat Hormuz bukan sekadar perairan. Ia adalah nadi global, tempat hampir seperlima pasokan minyak dunia melintas setiap hari. Ketika Iran memperketat kendali sejak akhir Februari 2026, dunia seketika menahan napas. Tanker-tanker minyak yang biasanya meluncur tanpa banyak tanya kini seperti mengetuk pintu yang dijaga ketat oleh logika perang.
Araghchi menegaskan dengan nada dingin: kawasan itu kini adalah zona konflik. Kapal dari negara yang dianggap musuh—termasuk Amerika Serikat dan Israel—tak lagi memiliki jalan. Bahkan sekutu-sekutu mereka di kawasan Teluk ikut terseret dalam garis pembatas yang kian tegas.
“Kita berada dalam keadaan perang,” ujarnya. Kalimat itu bukan sekadar pernyataan diplomatik, tetapi sinyal bahwa hukum lalu lintas laut kini tunduk pada logika aliansi.
Dari perspektif ekonomi, keputusan ini bukan hanya soal siapa boleh lewat dan siapa tidak. Ia menciptakan efek domino: premi risiko melonjak, asuransi pelayaran meroket, dan harga energi berpotensi bergetar. Bagi negara seperti Indonesia, yang masih bergantung pada impor energi, ketidakhadiran dalam daftar “aman” ini bisa berarti biaya lebih mahal, jalur lebih panjang, dan ketidakpastian yang menebal.
Namun lebih dari itu, keputusan Iran memperlihatkan satu hal: dunia sedang bergerak dari globalisasi menuju fragmentasi. Jalur perdagangan yang dulu netral kini berwarna—ditentukan oleh siapa kawan dan siapa lawan.
Di tengah gelombang ini, Selat Hormuz tak lagi sekadar jalur air. Ia telah berubah menjadi garis batas politik, tempat kapal-kapal bukan hanya membawa minyak, tetapi juga membawa identitas geopolitik masing-masing. (bs)