Jakarta, AFU.ID - Israel menjadi pihak yang paling dirugikan jika perjanjian damai antara Iran dengan Amerika Serikat berjalan sukses. Meski begitu, hingga saat ini negosiasi damai yang dimediasi oleh Pakistan ini belum sepenuhnya lancar.
Di tengah alotnya mencapai kesepakatan damai kedua belah pihak itu, ada bocoran dari pejabat tinggi AS yang mengatakan bahwa Israel akan melakukan segala cara untuk membatalkan pernjanjian damai itu, bahkan dengan cara paling ekstrem, yaitu membunuh negosiator Iran.
Laporan ini disampaikan The New York Post, Jumat (3/7/2026) mengutip pernyataan salah satu pejabat AS yang tidak disebutkan namanya. Tokoh kunci perdamaian dari Iran seperti Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi disebut paling berpeluang dibunuh oleh Israel.
Meski begitu, pejabat AS itu tidak punya bukti konkret terkait ancaman pembunuhan tersebut. Kata dia, saat ini intelijen AS juga belum membeberkan tanda-tanda apa saja yang bisa diketahui sebagai dasar peringatan tersebut. Namun, pejabat pertahanan tertinggi Israel telah secara terbuka menyatakan dukungannya terhadap pembunuhan para pemimpin senior Iran.
Jalan pintas itu tidak akan menyelesaikan persoalan. Presiden AS Donald Trump sendiri telah menegaskan bahwa membunuh pejabat tinggi Iran justru akan mempersulit proses negosiasi yang sedang dijalankan. Perjalanan negosiasi sendiri sudah berlangsung lama dan melelahkan bagi dua belah pihak.
Presiden Trump sendiri ingin negosiasi damai itu berjalan lancar. Buktinya, Pada Maret lalu, dirinya menolak mengungkap identitas pihak Iran yang menjadi mitra perundingan dengan AS karena tidak ingin mereka menjadi sasaran pembunuhan. Trump pun menambahkan situasi menjadi rumit.
Sementara itu, Kantor Perdana Menteri Israel membantah laporan The New York Times tersebut. Dalam pernyataannya di platform X, Israel menyebut laporan tersebut sebagai "berita palsu" dan rekayasa yang sepenuhnya tidak sesuai dengan kenyataan. (EER)