Jakarta, AFU.ID — Gelombang cuaca panas ekstrem atau heatwave melanda sebagian besar wilayah Eropa. Suhu ekstrem yang menyentuh 44,3 derajat celcius wilayah Pissos, Prancis, pada 23 Juni lalu tercatat sebagai yang paling panas sejak 1947. Ombak panas yang tak biasa datang lebih awal ini kini bergerak ke timur, memecahkan rekor suhu di Jerman, Polandia, Denmark, hingga Swiss.
Akibat panas ekstrem itu, warga Prancis berbondong-bondong membeli pendingin udara dan kipas angin. Video yang beredar di media sosial menunjukkan antrean dan desak-desakan di toko-toko, termasuk di kota Chambéry, di mana pelanggan berdesakan begitu pintu toko dibuka.
Produsen AC seperti Samsung, LG, Midea, dan Mitsubishi Electric menikmati lonjakan permintaan dari Eropa. Samsung menyatakan pasar utama termasuk Italia, Spanyol, dan Prancis mencatat pertumbuhan penjualan dua digit pada paruh pertama tahun ini.
Di Jerman, panas ekstrem menyebabkan aspal jalan raya meleleh sampai melengkung. Jalan tol A2 yang menghubungkan Berlin dengan Jerman barat mengalami kerusakan parah akibat bitumen yang terbelah karena suhu tinggi. Kepolisian Jerman terpaksa menutup sejumlah ruas tol dan mengalihkan lalu lintas ke jalan lokal. Tak hanya jalan raya, sistem transportasi rel juga terdampak. Di Leipzig, aspal meleleh langsung di atas rel trem.
Para ilmuwan dari World Weather Attribution (WWA) menyatakan bahwa gelombang panas ini adalah yang "paling parah" yang pernah tercatat di Eropa. Penelitian mereka menemukan bahwa suhu seperti ini akan "hampir mustahil" terjadi pada iklim 50 tahun lalu.
"Peristiwa ini tidak akan mungkin terjadi di bulan Juni tanpa perubahan iklim," kata Dr. Theodore Keeping dari Imperial College London. Eropa memanas dua kali lebih cepat dibanding rata-rata global, menjadikannya benua dengan pemanasan tercepat di dunia.
Heatwave Menggerus Isi Dompet Warga Eropa
Gelombang panas dan kekeringan yang semakin sering melanda Eropa tidak hanya mengganggu sektor pertanian dan rantai pasok, tetapi juga menggerus kondisi keuangan rumah tangga. Sebuah penelitian di jurnal Global Environmental Change yang dipimpin oleh ekonom iklim Climate Analytics, Jessie Ruth Schleypen, menemukan bahwa gelombang panas dan kekeringan sepanjang periode 2004-2022 telah memangkas pendapatan rumah tangga tahunan rata-rata di seluruh Eropa hampir 3 persen. Akibatnya, tambahan 5,6 juta warga Eropa kini berada dalam risiko kemiskinan.
Sebagai benua dengan laju pemanasan tercepat di dunia, Eropa menghadapi dampak besar terhadap keuangan rumah tangga karena cuaca ekstrem memperlambat produktivitas kerja. Selain itu, ada juga risiko kesehatan seperti serangan panas dan penyakit kardiovaskular. Peneliti mengungkap Madrid menduduki peringkat teratas dengan penurunan pendapatan hampir 10 persen akibat produktivitas yang lebih rendah.
"Ada bukti jelas tentang dampak dan efek perubahan iklim yang pertama dirasakan oleh masyarakat umum," kata Schleypen. Temuan ini menambah bukti mengenai kebutuhan biaya yang mahal. Para ekonom memperkirakan semakin tinggi suhu, semakin tinggi pula biaya makanan sehingga menekan anggaran rumah tangga.
Ekonom iklim di Columbia Business School, Gernot Wagner, mengatakan kemajuan dalam penelitian ekonomi yang dipadukan dengan percepatan perubahan iklim yang pesat kini mempermudah untuk menentukan biaya-biaya ini. "Dampak kumulatif dari waktu ke waktu cukup besar sehingga sudah terlihat dalam statistik ekonomi. Kita sudah lebih miskin karena perubahan iklim," katanya.
Terbiasa Hidup Tanpa AC
Meski suhu meningkat secara ekstrem, sebagian besar gedung dan rumah di Eropa, terutama Jerman dan Swiss, tidak dilengkapi AC. Hanya sekitar 6 persen rumah tangga di Jerman yang memiliki pendingin ruangan. Sementara bagnunan mereka, memang dirancang untuk cuaca dingin. Dinding dibuat lebih tebal untuk mengisolasi panas, yang justru membuat suhu ruangan semakin panas saat cuaca panas terjadi.
Survei menunjukkan, delapan dari sepuluh orang Prancis menganggap AC berdampak buruk bagi iklim. Namun, gelombang panas yang kian sering terjadi mulai mengubah pandangan itu. Proyeksi International Energy Agency (IEA) menyebut jumlah unit AC di Uni Eropa bisa meningkat lebih dari dua kali lipat hingga 2050.
Di Swiss, rumah, apartemen, toko, bahkan restoran dan hotel jarang yang menggunakan AC karena dulu panas di Swiss masih di bawah 30 derajat celcius.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat lebih dari 1.300 kematian berlebih di seluruh Eropa sejak 21 Juni lalu yang terkait dengan suhu tinggi. Prancis melaporkan sekitar 1.000 kematian tambahan pada pekan lalu di puncak gelombang panas, dengan 85 persen korban berusia 65 tahun ke atas. Selain itu, sedikitnya 54 orang di Prancis meninggal akibat tenggelam di perairan saat berusaha mendinginkan diri.
"Eropa adalah benua dengan pemanasan tercepat di Bumi. Saat ini 150 juta orang hidup di bawah panas ekstrem, ratusan telah meninggal, sekolah-sekolah ditutup, dan jaringan listrik dalam tekanan," tulis Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus. "Heat stress sering disebut 'pembunuh diam-diam'—dan rumah, tempat kerja, serta sekolah di Eropa tidak dibangun untuk suhu seperti ini." (EER)