JAKARTA, AFU.ID — Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa sejak pertengahan Juni telah menewaskan lebih dari 1.300 orang. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat lonjakan kematian mulai terjadi sejak 21 Juni, ketika suhu tinggi memecahkan rekor di sejumlah wilayah.
WHO menyebut sekitar 150 juta penduduk Eropa kini hidup di bawah paparan panas ekstrem. Kondisi tersebut juga menyebabkan penutupan sekolah, mengganggu pasokan listrik, hingga meningkatkan tekanan terhadap layanan kesehatan. Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menegaskan dampak suhu ekstrem terus meluas seiring memburuknya cuaca di kawasan tersebut.
Tedros mengatakan gelombang panas kini menjadi ancaman kesehatan yang membutuhkan respons cepat dari setiap negara. WHO, kata Tedros, mendorong pemerintah memperkuat sistem kesehatan sekaligus menyusun rencana aksi khusus untuk menghadapi cuaca ekstrem.
Prancis menjadi salah satu negara dengan dampak paling besar. Kementerian Kesehatan setempat melaporkan sekitar 1.000 kematian tambahan sejak gelombang panas melanda pada akhir Juni. "Sebagian besar korban di Prancis merupakan kelompok lanjut usia yang mencapai sekitar 85 persen dari total kematian," kata Tedros dalam pernyataannya. Lonjakan kasus terjadi di rumah sakit, panti jompo, hingga rumah tinggal, terutama di wilayah yang berstatus peringatan merah.
Sementara itu, Jerman terus mencatat rekor suhu baru selama tiga hari berturut-turut. Dinas Cuaca Jerman melaporkan suhu mencapai 41,7 derajat Celsius di Coschen, Brandenburg, pada Minggu (28/6/2026), meski angka tersebut masih menunggu verifikasi resmi.
Rekor sebelumnya juga terjadi di Drewitz, Sachsen-Anhalt, dan Bad Muskau di perbatasan Polandia dengan suhu mencapai 41,5 derajat Celsius. Gelombang panas tersebut menunjukkan pusat suhu ekstrem kini bergeser ke kawasan timur Jerman. Cuaca ekstrem juga melanda Polandia dan Republik Ceko dengan suhu menembus lebih dari 40 derajat Celsius. Desa Doksany di Republik Ceko bahkan mencatat suhu 41,9 derajat Celsius, tertinggi sepanjang sejarah pengamatan resmi negara itu.
"Ini adalah pertama kalinya kami mencatat suhu 41 derajat dalam jaringan stasiun cuaca resmi kami," tulis Institut Meteorologi Ceko (CHMI). Lembaga tersebut menyebut rekor tersebut dipicu aliran udara panas dari barat daya yang menyelimuti Eropa Tengah.
Meski suhu terus memecahkan rekor, aktivitas masyarakat masih berlangsung di sejumlah wilayah. Banyak warga memilih memadati sungai, taman, hingga ruang terbuka sebagai cara mencari kesejukan di tengah panas ekstrem.
WHO mengingatkan gelombang panas diperkirakan akan semakin sering terjadi akibat perubahan iklim. Karena itu, negara-negara Eropa diminta memperkuat langkah mitigasi agar dampak kesehatan dan korban jiwa dapat ditekan pada musim panas berikutnya. (RAI)