JAKARTA - AFU.ID, Ketegangan di kawasan Teluk Persia masih memanas. Di tengah ancaman dari Amerika Serikat yang menyasar Oman terkait Selat Hormuz, Iran menyatakan solidaritas penuh. Sementara itu, upaya diplomasi untuk menghentikan permusuhan terus berlangsung meski hasil akhir masih belum pasti.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, pada Jumat (29/5/2026) menyampaikan dukungan tegas kepada mitranya dari Oman, Badr al-Busaidi. Dukungan ini diberikan menyusul ancaman Washington yang menargetkan Oman terkait pengelolaan jalur perairan strategis Selat Hormuz.
"Dalam percakapan yang sangat produktif dengan Menlu Badr al-Busaidi, saya menyatakan solidaritas Iran dengan Oman dalam menghadapi ancaman apa pun. Kami membahas Hormuz dan pengelolaannya di masa depan sesuai dengan tanggung jawab kedaulatan kami dan hukum internasional," tulis Araghchi di akun X miliknya, seperti dikutip dari laporan Sputnik/RIA Novosti-OANA.
Araghchi juga menekankan bahwa kedua pihak sepakat untuk mengajak semua negara tetangga berdialog dan berkonsultasi.
Ancaman kepada Oman sebelumnya disampaikan oleh Menteri Keuangan AS Scott Bessent pada Rabu (27/5/2026). Bessent memperingatkan bahwa AS akan mengejar siapa pun yang membantu Iran mengumpulkan biaya transit melalui Selat Hormuz.
Peringatan lebih keras datang dari Presiden AS Donald Trump yang mengancam akan "meledakkan" Oman jika negara itu mencoba mengambil alih kendali selat.
Iran Tegaskan Kontrol Permanen atas Selat Hormuz
Di tengah tekanan AS, Ketua Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, Ebrahim Azizi, menegaskan bahwa negaranya telah menetapkan kendali permanen atas pelayaran di Selat Hormuz.
"Saat ini, Iran mengelola selat tersebut sesuai dengan aturan dan mekanismenya sendiri. Tentu saja, penetapan kendali Iran dan penerapan mekanisme pengelolaannya bersifat permanen, bukan sementara," tegas Azizi kepada RIA Novosti.
Dia juga meminta Amerika Serikat untuk tidak berkhayal bahwa langkah-langkah Iran ini hanya bersifat lokal atau jangka pendek. "Negara-negara kawasan juga harus menerima kenyataan ini dan bertindak sesuai dengan aturan Iran," ujarnya.
Sebagai catatan, serangan antara AS dan Israel terhadap Iran telah terjadi pada 28 Februari, diikuti oleh serangan balasan Iran. Gencatan senjata kemudian diumumkan pada 7 April, dan saat ini kedua pihak sedang mengupayakan nota kesepahaman untuk penghentian permusuhan sepenuhnya.
Rancangan Gencatan Senjata 60 Hari, Trump Masih Pikir-pikir
Perkembangan terbaru dari meja perundingan menunjukkan adanya secercah harapan. Tim perunding dari Amerika Serikat dan Iran dilaporkan telah mencapai kesepakatan awal untuk perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari. Kesepakatan ini juga mencakup kerangka perundingan nuklir, menurut sejumlah sumber dari pihak Amerika Serikat kepada Anadolu pada Kamis (28/5/2026).
Namun, langkah akhir masih tertahan di Gedung Putih. Presiden AS Donald Trump belum memberikan persetujuan akhir terhadap nota kesepahaman tersebut, meskipun para negosiator dari kedua pihak telah merampungkan sebagian besar syarat-syarat kesepakatan.
Melansir laporan Axios, pejabat Amerika mengungkapkan bahwa para negosiator Iran kemudian memberi tahu bahwa mereka telah memperoleh persetujuan yang diperlukan dan siap menandatangani kesepakatan. Sayangnya, Teheran belum mengonfirmasi klaim tersebut secara terbuka.
Salah satu pejabat AS yang dikutip Axios mengatakan, "Presiden menyampaikan kepada para mediator bahwa ia perlu beberapa hari untuk memikirkannya."
Isi Nota Kesepahaman yang Diusulkan
Dalam draf nota kesepahaman yang tengah digodok, terdapat sejumlah poin penting yang disepakati sementara:
- Pelayaran komersial melalui Selat Hormuz akan tetap berlangsung tanpa hambatan.
- Iran diwajibkan membersihkan seluruh ranjau dari jalur strategis tersebut dalam waktu 30 hari dan tidak memberlakukan pungutan maupun mengganggu kapal-kapal yang melintas.
- Blokade laut AS akan dicabut secara bertahap seiring pemulihan aktivitas pelayaran komersial.
- Iran berkomitmen untuk tidak mengejar senjata nuklir serta memprioritaskan perundingan terkait stok uranium yang diperkaya tingkat tinggi dan aktivitas pengayaan.
- Sebagai imbalan, AS bersedia membahas pelonggaran sanksi dan pencairan dana Iran yang dibekukan, serta mempermudah pengiriman barang dan bantuan kemanusiaan ke Iran.
Trump: Kami yang Pegang Kendali
Di tengah proses negosiasi yang alot, Presiden Trump tetap menunjukkan sikap keras. Kepada Fox News, ia menegaskan bahwa AS berada di posisi dominan. Trump mengatakan syarat untuk melanjutkan serangan terhadap Iran adalah jika Teheran berusaha memaksakan kesepakatan yang tidak menguntungkan bagi AS.
"Saya bernegosiasi, mereka bernegosiasi, mereka negosiator yang sangat baik, mereka licik; tetapi pada akhirnya, kami yang memegang semua kartu," ujar Trump seperti dilansir Axios, Kamis (28/5/2026).
Menjawab pertanyaan tentang penyebab spesifik yang akan memicu AS kembali menggunakan aksi militer, Trump menjawab, "Pada akhirnya, batasannya adalah kesepakatan yang tidak akan menguntungkan bagi kami."
Perlu diingat kembali bahwa AS dan Israel melancarkan serangan bersama terhadap sejumlah target di Iran pada 28 Februari yang menyebabkan kerusakan dan korban sipil.
Setelah gencatan senjata 7 April dan perundingan di Islamabad yang berakhir tanpa hasil, AS pun memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Kini, dunia masih menanti keputusan final Trump di hari-hari mendatang. (EER)