JAKARTA, AFU.ID — Sejumlah ledakan mengguncang berbagai wilayah selatan Iran pada Minggu (12/07/26) dini hari setelah Amerika Serikat melancarkan gelombang ketiga serangan militernya terhadap negara tersebut dalam sepekan. Televisi pemerintah Iran melaporkan tiga ledakan terjadi di Bandar Abbas, dua di Sirik, dua di sekitar Chabahar, serta lebih dari 10 ledakan di Jask, Provinsi Hormozgan. Ledakan juga terdengar di Asaluyeh dan Bandar Dayyer.
Serangan udara dilaporkan menghantam sebuah barak militer di bagian selatan Provinsi Bushehr. Ledakan lain terjadi di Desa Shah Abdollah, Khuzestan selatan, tetapi tidak menyebabkan korban jiwa menurut laporan awal pejabat setempat. Kantor berita Mehr, mengutip pejabat Provinsi Khuzestan, menyebut Hendijan, Mahshahr, dan Abadan turut menjadi sasaran. Suara ledakan juga dilaporkan terdengar di Pulau Qeshm.
Belum ada keterangan lengkap dari pemerintah Iran mengenai kerusakan maupun jumlah korban akibat gelombang serangan terbaru tersebut. Media pemerintah hanya melaporkan serangan terjadi di sejumlah wilayah di Provinsi Bushehr, Hormozgan, Khuzestan, serta Sistan dan Baluchestan. Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM menyatakan pasukannya menyerang sekitar 140 target militer Iran menggunakan senjata presisi yang diluncurkan dari pesawat tempur, pesawat nirawak, serta kapal perang.
Target serangan mencakup lokasi peluncuran rudal dan pesawat nirawak, fasilitas penyimpanan amunisi, kemampuan angkatan laut, jaringan komunikasi, serta fasilitas pengawasan pantai. CENTCOM menyebut operasi tersebut merupakan gelombang serangan ketiga terhadap Iran dalam sepekan. Secara keseluruhan, militer AS mengeklaim telah menyerang lebih dari 300 target selama tiga malam operasi.
Washington menyatakan serangan terbaru dilakukan sebagai balasan atas tindakan Korps Garda Revolusi Islam Iran terhadap sebuah kapal kontainer berbendera Siprus di Selat Hormuz. Kapal tersebut dilaporkan mengalami kebakaran dan kerusakan serius pada ruang mesin sehingga awaknya meninggalkan kapal. Seorang awak sipil juga dilaporkan hilang. Iran menyatakan kapal itu mengabaikan peringatan untuk mengubah haluan dan menggunakan jalur pelayaran yang telah disetujui. IRGC kemudian menembakkan apa yang disebut sebagai tembakan peringatan sebelum menghentikan kapal tersebut.
CENTCOM mengatakan serangan terbaru ditujukan untuk melemahkan kemampuan Iran menyerang pelaut sipil dan kapal-kapal niaga yang melintasi Selat Hormuz. Eskalasi itu terjadi setelah Iran menyatakan Selat Hormuz ditutup hingga waktu yang belum ditentukan. Teheran juga memperingatkan akan menyerang pangkalan-pangkalan lain di kawasan apabila kembali menjadi sasaran serangan. Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan energi terpenting di dunia. Sebelum perang pecah, sekitar seperlima minyak dan gas alam yang diperdagangkan secara global melewati jalur tersebut. (RHU)