JAKARTA, AFU.ID - Pemerintah Amerika Serikat mencabut visa duta besar Brasil, Maria Luiza Ribeiro Viotti, pada Selasa (4/8/2026). Langkah itu menjadi tindakan balasan atas penundaan Brasil memberikan persetujuan kepada calon duta besar AS untuk Brasília, Daniel Perez, serta penolakan visa terhadap dua pejabat senior Departemen Luar Negeri AS sebulan sebelumnya. Seorang pejabat senior Departemen Luar Negeri AS menyatakan, pencabutan visa Viotti bukan pengusiran dan juga bukan persona non grata.
“Ini hanya pembatalan visa seorang diplomat senior, tidak sama dengan mengusirnya dari negara tempat ia ditugaskan,” ujar pejabat itu. Visa Viotti akan segera dipulihkan jika Brasil memberikan persetujuan kepada Perez. Washington menilai penundaan untuk Perez, legislator Florida dan sekutu dekat Menteri Luar Negeri Marco Rubio yang dinominasikan Presiden Donald Trump pada 1 Juni, sudah melewati batas kewajaran.
Sedangkan penolakan visa bagi Riley Barnes, Asisten Menteri Luar Negeri untuk Demokrasi, Hak Asasi Manusia, dan Ketenagakerjaan, serta wakilnya Samuel Samson pada Juli lalu, adalah catatan. Kedua pejabat itu berencana membahas kebebasan berekspresi, kebebasan beragama, dan integritas pemilu dengan otoritas Brasil serta perwakilan masyarakat sipil.
Pemerintah Brasil dalam pernyataan resmi menyebut alasan Washington itu “palsu” dan menilai keputusan itu bagian dari eskalasi sengaja yang tidak sejalan dengan kemitraan bilateral yang selalu dilandasi saling menghormati. Sebaliknya, Brasil mengkritik cara AS mengumumkan penunjukan Perez sebelum meminta persetujuan kedua belah pihak, yang dinilai melanggar kebiasaan diplomatik.
Pemerintah Lula menegaskan bahwa permintaan persetujuan itu masih dalam proses analisis dan tidak ada batas waktu yang ditetapkan dalam Konvensi Wina tentang Hubungan Diplomatik. Penolakan visa terhadap Barnes dan Samson terjadi di tengah kekhawatiran Brasília bahwa kunjungan tersebut bisa dimanfaatkan untuk mempertanyakan integritas sistem pemungutan suara elektronik Brasil.
Latar Belakang Politik: Lula, Bolsonaro, dan Trump
Ketegangan diplomatik ini tidak berdiri sendiri. Hubungan antara pemerintahan Luiz Inacio Lula da Silva dan Donald Trump telah memburuk dalam beberapa bulan terakhir, beriringan dengan semakin panasnya kompetisi politik di Brasil. Lula, yang kembali mencalonkan diri untuk masa jabatan keempat non-berurutan, akan berhadapan dengan Senator Flávio Bolsonaro, putra mantan Presiden Jair Bolsonaro, yang memiliki kedekatan dengan Trump.
Mantan presiden Brasil itu sendiri sedang menjalani tahanan rumah terkait kasus dugaan upaya kudeta, sementara putranya menjadi figur utama oposisi sayap kanan. Bagi pemerintahan Lula, setiap langkah Washington yang menyentuh isu pemilu Brasil sangat sensitif. Brasília menilai dukungan politik Trump terhadap kubu Bolsonaro membuat kunjungan pejabat AS dapat menjadi instrumen pengaruh asing. Sebaliknya, pemerintahan Trump menuduh pemerintah Lula melakukan penyensoran tanpa hak.
Pejabat AS berulang kali membantah tuduhan campur tangan. Pembahasan mengenai demokrasi dan kebebasan berekspresi merupakan bagian normal dari diplomasi, dan Presiden Trump berhak menentukan siapa yang mewakili kepentingan Amerika di luar negeri. Pencabutan visa Viotti menandai rendahnya hubungan diplomatik kedua negara, tetapi hingga kini Viotti masih berada di Washington dan tidak diusir. (EER)