JAKARTA AFU.ID — Presiden Kolombia, Gustavo Petro, menolak segala bentuk campur tangan asing dalam pemilihan presiden di negaranya setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan dukungan kepada salah satu kandidat. Petro juga menegaskan bahwa rakyat Kolombia harus menentukan pilihan politiknya secara bebas tanpa berada di bawah pengaruh negara mana pun.
Petro menyampaikan hal itu setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberikan dukungan terbuka kepada calon presiden Kolombia dari sayap kanan Abelardo de la Espriella.
"Ketika suatu negara mencampuri keputusan negara lain, maka tidak ada lagi kebebasan," ujar Petro melalui akun media sosial X, seraya menyerukan kepada seluruh rakyat Kolombia untuk memberikan suara mereka dalam lingkungan yang benar-benar bebas.
Sebelumnya, pada Selasa yang sama, Trump secara terbuka menyatakan dukungan kepada Abelardo de la Espriella. Dalam pernyataannya, Trump menyebut dukungan penuh terhadap kandidat tersebut setelah hasil sementara pemungutan suara putaran pertama Pilpres Kolombia menunjukkan keunggulan dua kandidat utama.
“Merupakan suatu kehormatan bagi saya untuk memberikan dukungan penuh dan total kepada Abelardo,” ujar Trump dalam pernyataan yang kemudian menuai perhatian luas di panggung internasional.
Kolombia menggelar Pilpres putaran pertama pada Minggu (31/5). Hasil penghitungan suara sementara menunjukkan Abelardo de la Espriella dan Ivan Cepeda, kandidat dari koalisi sayap kiri yang berkuasa Pakta Bersejarah, lolos ke putaran kedua setelah berhasil menempati posisi dua teratas dalam pemungutan suara putaran pertama tersebut.
Berdasarkan konstitusi Kolombia, seorang presiden menjabat satu periode selama empat tahun tanpa pemilihan ulang. Petro tidak ikut dalam pemilihan tersebut. Pemilihan putaran kedua dijadwalkan pada 21 Juni, dan pemenangnya akan dilantik pada 7 Agustus.
Pernyataan Gustavo Petro yang menolak campur tangan asing dan dukungan terbuka Donald Trump kepada salah satu kandidat Pilpres Kolombia memicu perhatian luas. Situasi tersebut kembali mengangkat perdebatan mengenai batas keterlibatan negara lain dalam proses politik dan demokrasi suatu negara.
Menjelang pemungutan suara putaran kedua, dinamika politik di Kolombia semakin menghangat. Kontestasi ini tidak hanya akan menentukan pemimpin berikutnya, tetapi juga menjadi ujian bagi upaya menjaga kedaulatan politik di tengah pengaruh global yang semakin kuat. (ANT/RAI)