JAKARTA AFU.ID — Penguatan pendidikan karakter menjadi salah satu fokus utama pemerintah di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI). Pemerintah menilai keberhasilan peserta didik tidak hanya ditentukan oleh capaian akademik, tetapi juga oleh nilai-nilai seperti disiplin, toleransi, kemandirian, dan akhlak yang kuat.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, mengatakan penguatan karakter dilakukan melalui berbagai pendekatan, mulai dari pembiasaan nilai-nilai moral di sekolah hingga penerapan pembelajaran multibahasa. Menurutnya, penggunaan bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan bahasa asing juga menjadi bagian dari upaya membangun kemampuan komunikasi sekaligus memperkuat sikap toleran di lingkungan pendidikan.
Fajar mengatakan nilai-nilai seperti saling menghormati dan tidak mencaci maki dinilai sejalan dengan agenda penguatan karakter yang tengah didorong pemerintah. “Prestasi itu penting, tetapi tidak kalah penting juga adalah karakter,” kata Fajar.
Dalam konteks pendidikan modern, terutama di era kecerdasan buatan, Wamen Fajar mengingatkan keberhasilan tidak selalu ditentukan oleh kecerdasan akademik. Faktor seperti keuletan, kedisiplinan, kepribadian, dan kemandirian justru memiliki peran yang lebih besar dalam menentukan kesuksesan seseorang.
“Setiap sistem pendidikan di negara-negara yang mengenalkan multilingualisme umumnya memiliki semangat toleransi yang tinggi. Ini tentu saja penting agar anak-anak kita tumbuh dalam keberagaman,” ujar Fajar.
Ia menambahkan Pemerintah Prabowo, melalui Kemendikdasmen, telah menerbitkan peraturan Permendikdasmen Nomor 12 Tahun 2026 untuk mendorong penggunaan tiga bahasa di lingkungan sekolah, meliputi bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan bahasa asing.
Untuk diketahui, data pendidikan Kota Dumai menunjukkan tren yang relatif positif. Berdasarkan data BPS Kota Dumai, rata-rata lama sekolah (RLS) meningkat dari 10,15 tahun pada 2022 menjadi 10,29 tahun pada 2024. Angka ini secara tidak langsung memperlihatkan capaian program wajib belajar 9 tahun telah terlampaui. Kehadiran Wamen Fajar disambut gembira oleh para kepala sekolah, guru dan siswa-siswi Maitreyawira.
Dalam kesempatan tersebut,Fajar memberikan motivasi pada acara pelepasan siswa kelas X SMP Maitreyawira. Dia menekankan peran strategis guru dalam proses pendidikan tidak sekadar menjalankan tugas administratif pembelajaran, melainkan harus menjadi perancang utama pengalaman belajar siswa.
“Bapak ibu guru bukan operator pembelajaran, tetapi arsitek pembelajaran. Operator hanya menjalankan, sementara arsitek menghadirkan kreasi, inovasi, dan kontekstualisasi sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna,” tutup Fajar. (ANT/RAI)