JAKARTA, AFU.ID — Ledakan menghancurkan rumah tiga lantai di Kompleks Grand Polonia, Medan, dan menewaskan tiga orang pada Senin (20/7/2026). Polisi menduga kebocoran pipa gas tanam menjadi pemicu setelah alat pendeteksi menemukan kandungan gas di sekitar reruntuhan. Namun, belum ada keterangan yang memastikan penghuni rumah mencium bau gas atau memperoleh tanda bahaya sebelum ledakan. Pertanyaan mengenai keberadaan, sumber, dan alasan gas tidak terdeteksi penghuni kini menjadi bagian penting dalam penyelidikan.
Kapolrestabes Medan Kombes Jean Calvijn Simanjuntak mengatakan dugaan kebocoran muncul dari pemeriksaan awal di rumah nomor 3B. “Hasil investigasi awal adanya kebocoran dari pipa gas tanam atau pipa gas bawah tanah,” kata Calvijn. Polisi belum menetapkan gas sebagai penyebab pasti karena sampel dan material dari lokasi masih diperiksa Tim Laboratorium Forensik. Tim Penjinak Bom dan Inafis juga dilibatkan untuk mencari kemungkinan sumber ledakan lainnya.
PT Perusahaan Gas Negara menyampaikan hasil berbeda setelah memeriksa lokasi beberapa jam setelah ledakan. Area Head PGN Medan Agus Kurniawan mengatakan alat timnya tidak menemukan kandungan metana di lantai satu maupun lantai dua rumah. “Hasil pemeriksaan di lokasi kejadian menunjukkan angka 0 ppm atau tidak terdeteksi adanya kandungan gas metana,” katanya. PGN juga menghentikan sementara penyaluran gas dan memeriksa jaringan di sekitar kompleks tersebut.
Hasil nol ppm pada malam hari belum menjelaskan kondisi udara ketika ledakan terjadi pada sore hari. Pengukuran dilakukan setelah ledakan, saat bangunan sudah terbuka, gas berpotensi tersebar, dan aliran telah dihentikan. Karena itu, hasil polisi dan PGN harus dicocokkan berdasarkan waktu, lokasi pengukuran, jenis gas yang terdeteksi, serta alat yang digunakan. Kesimpulan mengenai kebocoran tidak dapat dibuat hanya dari salah satu pemeriksaan tersebut.
Gas bumi pada dasarnya diberi zat pembau agar kebocorannya dapat diketahui masyarakat sebelum mencapai kondisi berbahaya. Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi menyatakan bau pada jaringan gas seharusnya mudah dikenali ketika terjadi kebocoran. Standar teknis juga mengatur penambahan odorant pada gas bumi agar kebocoran dapat dideteksi melalui penciuman. Pemeriksaan laboratorium perlu memastikan apakah gas yang diduga berada di rumah itu mengandung zat pembau dengan kadar yang sesuai.
Penyidik juga perlu memastikan apakah penghuni pernah mencium bau, berapa lama gas diduga terakumulasi, dan bagian rumah yang menjadi titik awal ledakan. Keterangan korban selamat, tetangga, pekerja, serta rekaman kamera pengawas diperlukan untuk menyusun keadaan sebelum dentuman terjadi. Seorang saksi hanya menyebut melihat cahaya putih sesaat sebelum ledakan, tetapi belum dapat memastikan apakah cahaya itu berasal dari api atau sumber lain. “Hitungan per detik ada cahaya putih, terus langsung muncul ledakan,” kata saksi bernama Danu.
Ledakan tersebut meratakan rumah nomor 3B dan merusak enam hingga tujuh rumah di sekitarnya. Empat orang ditemukan selamat, sedangkan tiga perempuan yang tertimbun reruntuhan ditemukan meninggal dunia hingga Selasa malam. Polisi memasang garis pengaman dan melarang warga memasuki lokasi selama pemeriksaan berlangsung. Penyebab ledakan dan pihak yang harus bertanggung jawab baru dapat ditentukan setelah hasil Laboratorium Forensik serta pemeriksaan jaringan gas selesai. (RHU)