JAKARTA, AFU.ID — Kematian Dewi Sartika Sitinjak (24) setelah menjalani operasi ambeien di RS Awal Bros Botania, Batam, kini berkembang menjadi perkara hukum yang menunggu penjelasan medis. Keluarga mempersoalkan tiga obat yang diberikan pascaoperasi karena Dewi disebut mulai kesakitan dan sesak, lalu mengalami kejang hingga kehilangan kesadaran. Setelah menjalani perawatan intensif hampir dua pekan, Dewi meninggal dunia dan jenazahnya diautopsi untuk mengetahui penyebab kematian.
Sebelum kondisinya memburuk, keluarga menyebut operasi Dewi berjalan baik. Ia masih sadar, sempat melakukan panggilan video dengan keluarga, dan diperbolehkan makan. Dewi bahkan sempat meminta makanan berupa sup sebelum rangkaian pemberian obat yang kini dipersoalkan dilakukan.
Kuasa hukum keluarga mengatakan Dewi kemudian menerima tiga jenis obat, dua melalui suntikan dan satu melalui infus. Menurut keluarga, Dewi mulai mengeluhkan sakit dan sesak saat obat pertama diberikan, namun pemberian obat berikutnya tetap dilanjutkan. Tak lama kemudian, ia disebut mengalami kejang hebat hingga tidak sadarkan diri dan harus mendapat penanganan intensif sebelum dipindahkan ke ICU.
“Pertanyaan keluarga adalah apakah sudah dilakukan pemeriksaan menyeluruh sebelum tiga suntikan diberikan, apa indikasinya, dan apa tujuan pemberian obat tersebut,” kata kuasa hukum keluarga, Bangun P. Simamora, Kamis (13/8/2026). Keluarga juga meminta penjelasan mengenai risiko obat-obatan tersebut serta pertimbangan medis di balik pemberiannya.
Persoalan tiga obat itu menjadi salah satu poin utama laporan keluarga ke Polresta Barelang. Laporan tersebut berkaitan dengan dugaan kelalaian tenaga medis atau tenaga kesehatan yang mengakibatkan luka berat. Setelah Dewi meninggal, keluarga menegaskan proses hukum tetap dilanjutkan untuk memastikan ada atau tidaknya kesalahan dalam penanganan pasien.
Keluarga juga mengungkap sejumlah hal lain yang mereka anggap janggal selama Dewi dalam kondisi kritis, di antaranya dugaan selang ventilator yang sempat terlepas, permintaan rekam medis, hingga perbedaan tanggal dalam surat keterangan kematian yang disebut sempat tercantum 8 Agustus, padahal Dewi meninggal dua hari kemudian. Hal-hal tersebut kini turut menjadi bagian dari materi yang akan diuji dalam proses hukum.
Manajemen RS Awal Bros Botania membantah adanya kesimpulan bahwa penanganan terhadap Dewi merupakan malapraktik. Direktur RS Awal Bros Botania, Retno Kusumo, mengatakan seluruh pemeriksaan, tindakan medis, pemantauan, dan penanganan dilakukan berdasarkan kondisi klinis pasien serta sesuai prosedur. Pihak rumah sakit meminta publik tidak menyimpulkan adanya kesalahan atau kelalaian medis sebelum seluruh fakta dan hasil pemeriksaan resmi tersedia.
Kepastian penyebab kematian Dewi kini bergantung pada hasil pemeriksaan forensik. Jenazah telah dibawa ke RS Bhayangkara Polda Kepri untuk diautopsi atas permintaan keluarga sebelum dipulangkan ke kampung halamannya di Samosir. Pemeriksaan ini diharapkan dapat menjelaskan perubahan kondisi Dewi yang tiba-tiba memburuk pascaoperasi hingga mengalami kejang, tidak sadarkan diri, dan meninggal dunia.
Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kepulauan Riau juga mulai mengikuti perkembangan kasus ini. Ketua IDI Kepri, Yanuarman, mengatakan organisasi profesi belum dapat menyimpulkan apakah kondisi Dewi berkaitan dengan obat, reaksi alergi berat, syok, atau faktor medis lain sebelum hasil forensik keluar. IDI juga berencana meminta keterangan dari pihak rumah sakit serta mendata tenaga medis yang menangani pasien.
IDI menyatakan Majelis Kehormatan Etik Kedokteran siap memberikan keterangan apabila diminta penyidik. Jika ditemukan dugaan pelanggaran, pemeriksaan etik dapat dilakukan terpisah dari proses pidana yang berjalan. Namun hingga kini, dugaan malapraktik dalam kasus ini belum dapat dipastikan.
Kasus Dewi kini tidak hanya menyisakan kisah seorang perempuan muda yang meninggal setelah operasi yang semula disebut berjalan baik. Pertanyaan utama kini berada pada fase setelah operasi: obat apa yang diberikan, mengapa pemberian tetap dilanjutkan saat pasien mengeluh sesak, dan apa yang sebenarnya menyebabkan Dewi kehilangan kesadaran hingga meninggal dunia. Jawaban atas pertanyaan itu masih menunggu hasil forensik dan penyelidikan kepolisian. (RHU)