JAKARTA, AFU.ID - Koalisi Sipil Masyarakat Anti Korupsi (Kosmak) membongkar jaringan bisnis yang dipakai Febrie Adriansyah untuk mencuci uang. Jaringan itu dikendalikan oleh empat orang kepercayaan yang berperan sebagai gatekeeper atau penjaga gerbang: Don Ritto, Nurman Herin, Jeffri Ardiatma, dan Rangga Cipta.
Berdasarkan penelusuran dokumen notaris yang dihimpun Kosmak yang diterima AFU.ID di Jakarta, Sabtu (11/72026), keempat nama tersebut muncul berulang kali dalam struktur pemegang saham, jabatan direksi dan komisaris, hingga aliran transaksi di belasan perusahaan. Mereka diduga menjadi kamuflase kepemilikan Febrie atas perusahaan-perusahaan di berbagai sektor, mulai dari penukaran valuta asing, perdagangan batubara, restoran Prancis, hingga minyak sawit.
Don Ritto dan Nurman Herin adalah anggota Alumni Universitas Jambi bersama Febrie. Salah satu temuan penting adalah PT. Hutama Indo Tara, yang didirikan pada 11 Oktober 2022. Dalam akte pendiriannya, Don Ritto tercatat sebagai Direktur dengan 50 lembar saham, sedangkan jabatan Komisaris dengan 950 lembar saham dipegang oleh Kheysan Farrandie, putra kedua Febrie Adriansyah.
Jaringan ini juga melibatkan putra pertama Febrie, Aga Adrian Haitara. Pada 1 April 2024, Aga masuk sebagai pemegang 200 lembar saham di PT. Hutama Indo Tara. Hingga 23 April 2024, komposisi pemegang saham perusahaan tersebut berubah menjadi Don Ritto (300), Kheysan Farrandie (350), dan Aga Adrian Haitara (350).
Selain itu, Kosmak menemukan PT. Blok Bulungan Bara Utama yang bergerak di bidang perdagangan batubara, didirikan pada 12 November 2021 dengan Jeffri Ardiatma sebagai Direktur (2.500 saham) dan Rangga Cipta sebagai Komisaris (2.500 saham). Perusahaan ini tercatat memiliki peredaran usaha Rp122 miliar pada tahun 2022 dan diduga mengalirkan dana Rp19 miliar kepada Nurman Herin yang disamarkan sebagai pinjaman. Jeffri dan Rangga juga mengelola PT. Nukkuwatu Lintas Nusantara dengan omzet Rp99 miliar (2021) dan Rp180 miliar (2022).
Perusahaan-perusahaan lain yang teridentifikasi dalam jaringan ini antara lain PT. Kantor Omzet Indonesia (kegiatan penukaran valuta asing), PT. Declan Kulinari Nusantara (pengelola tiga restoran Prancis termasuk Gontran Cherrier), PT. Prima Niaga Intiselaras (memiliki saldo rekening Rp 26,4 miliar per Februari 2024), PT. Aga Mitra Perkasa (minyak kelapa sawit), serta PT. Sebambam Mega Energy yang terafiliasi dengan Agustinus Antonius, mantan Direktur Perencanaan dan Perkebunan Kelapa Sawit Kementerian Keuangan.
Temuan paling mencengangkan adalah akuisisi PT. Parwita Permata Mulia yang diperkirakan bernilai Rp 1,5 triliun untuk menguasai PT. Tribhakti Inspektama. Pengurus PT. Parwita Permata Mulia adalah Don Ritto (Direktur) dan Nurman Herin (Komisaris), dengan pemegang saham mayoritas PT. Kresna Pusaka Energi yang juga dikendalikan keduanya. Kosmak menyoroti kesenjangan besar karena berdasarkan Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT), kekayaan Don Ritto dan Nurman Herin hanya sekitar miliaran rupiah, tidak sebanding dengan nilai akuisisi triliunan rupiah tersebut.
Seluruh rangkaian fakta ini, menurut Kosmak, mengindikasikan adanya upaya penyembunyian atau penyamaran uang hasil tindak pidana korupsi yang melibatkan Febrie dalam kedudukannya sebagai Jampidsus, dengan menggunakan para gatekeeper untuk mengamankan aset. (EER/MJR)