JAKARTA, AFU.ID — Heatstroke atau sengatan panas merupakan kondisi darurat medis yang dapat mengancam nyawa jika tidak segera ditangani. Dokter spesialis kegawatdaruratan dan trauma dari Medanta Noida, Dr. Santosh Pandey, mengingatkan bahwa kondisi ini ditandai oleh gangguan fungsi otak, mulai dari kebingungan hingga hilang kesadaran.
Pandey menjelaskan heatstroke dan heat exhaustion atau kelelahan akibat panas berada dalam satu spektrum gangguan yang sama. Namun, heatstroke merupakan fase yang jauh lebih berbahaya karena suhu inti tubuh telah meningkat hingga lebih dari 40 derajat Celsius dan mulai memengaruhi kerja organ vital.
Pada tahap heat exhaustion, seseorang umumnya masih sadar dan mampu merespons. Gejalanya meliputi keringat berlebih, tubuh lemas, pusing, sakit kepala, mual, kram otot, serta denyut nadi yang lebih cepat dari biasanya.
Kondisi tersebut dapat berkembang menjadi heatstroke ketika tubuh tidak lagi mampu mengendalikan suhu internalnya. Saat itu, penderita mulai mengalami gangguan neurologis seperti kebingungan, disorientasi, bicara pelo, kejang, kehilangan kesadaran, hingga perilaku yang tidak biasa.
Menurut Pandey, perubahan kondisi mental merupakan tanda paling penting untuk mengenali heatstroke. Gejala tersebut juga menjadi pembeda utama antara heatstroke dan kelelahan akibat panas biasa.
Ia juga meluruskan anggapan bahwa seluruh penderita heatstroke pasti berhenti berkeringat. Dalam sejumlah kasus, terutama heatstroke yang dipicu aktivitas fisik berat, pasien masih dapat mengeluarkan keringat meski kondisi tubuhnya sudah berbahaya. “Perubahan kondisi mental merupakan tanda paling penting untuk membedakan heatstroke dari kelelahan akibat panas,” kata Pandey, Rabu (24/6/2026).
Pandey menjelaskan tubuh pada dasarnya mendinginkan diri melalui penguapan keringat. Namun ketika terpapar suhu yang sangat tinggi dalam waktu lama, mekanisme tersebut dapat gagal sehingga suhu tubuh meningkat drastis dan berpotensi merusak organ-organ penting.
Jika menemukan seseorang yang diduga mengalami heatstroke, langkah pertama yang harus dilakukan adalah segera memanggil bantuan medis dan memindahkan korban ke tempat yang lebih sejuk atau berpendingin udara.
Pakaian yang berlebihan sebaiknya dilepas, kemudian tubuh didinginkan menggunakan air dingin, handuk basah, kipas angin, atau kompres es yang ditempatkan di area leher, ketiak, dan selangkangan untuk mempercepat penurunan suhu tubuh.
Korban yang masih sadar dan mampu menelan dapat diberikan cairan dingin secara perlahan. Namun, pemberian minuman tidak boleh dipaksakan apabila korban mengalami kebingungan atau sudah tidak sadar karena berisiko menyebabkan tersedak. “Prioritas utama adalah menurunkan suhu tubuh secepat mungkin sambil menunggu bantuan medis tiba,” ujar Pandey.
Ia menambahkan kelompok lansia, anak-anak, penderita obesitas, diabetes, penyakit jantung, gangguan ginjal, pekerja lapangan, dan atlet memiliki risiko lebih tinggi mengalami heatstroke. Karena itu, masyarakat diimbau mengurangi aktivitas berat saat cuaca sangat panas dan segera beristirahat apabila mulai merasakan pusing, mual, kelelahan berlebihan, atau sesak napas yang tidak biasa. (ANT/RAI)