JAKARTA, AFU.ID — Vietnam resmi naik ke kelompok negara berpendapatan menengah atas. Pada saat yang sama, industri manufaktur Indonesia justru kembali masuk zona kontraksi, memunculkan pertanyaan tentang arah kebijakan industri nasional ketika negara tetangga itu berhasil mempercepat transformasi ekonominya.
Purchasing Managers’ Index atau PMI manufaktur Indonesia turun dari 50 pada Mei menjadi 46,9 pada Juni 2026. Angka di bawah 50 menunjukkan aktivitas industri sedang menyusut, sementara penurunan tersebut menjadi yang terendah dalam 12 bulan terakhir. Pesanan baru tercatat melemah untuk pertama kalinya dalam tiga bulan, ekspor ikut menurun, dan produksi mengalami kontraksi selama empat bulan berturut-turut.
Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance atau Indef Didik J. Rachbini menilai angka itu tidak boleh diperlakukan sebagai pelemahan sesaat. Menurut dia, penurunan PMI menunjukkan sektor industri telah lama menghadapi persoalan mendasar dan kini memasuki kondisi yang mengkhawatirkan. “Angka PMI ini merupakan indikasi bahwa sektor industri kita sudah lama sakit dan kini masuk zona bahaya merah karena berada di bawah level 50,” ujar Didik dalam keterangannya, Minggu (5/7/2026).
Tekanan di sektor industri terjadi ketika ekonomi Indonesia masih tumbuh 5,61 persen secara tahunan pada triwulan I 2026. Namun, Didik menilai pertumbuhan tersebut belum mencerminkan pemulihan manufaktur karena salah satu pendorong terbesarnya berasal dari belanja pemerintah, bukan dari penguatan basis produksi dan ekspor industri.
Badan Pusat Statistik mencatat konsumsi pemerintah tumbuh 21,81 persen pada periode tersebut, menjadi komponen pengeluaran dengan pertumbuhan tertinggi. Bagi Didik, kondisi itu menunjukkan pertumbuhan di atas 5 persen belum cukup untuk menandakan ekonomi nasional memiliki fondasi industri yang kuat. “Sektor industri Indonesia sudah lama terombang-ambing dan tidak memiliki pijakan kebijakan yang tegas,” katanya.
Perbandingan dengan Vietnam semakin menonjol setelah Bank Dunia mengklasifikasikan negara itu sebagai ekonomi berpendapatan menengah atas mulai Juli 2026. Status tersebut didasarkan pada pendapatan nasional bruto atau GNI per kapita Vietnam yang mencapai sekitar 4.970 dolar AS pada 2025, melampaui ambang klasifikasi negara berpendapatan menengah atas.
Menurut Didik, capaian Vietnam tidak dibangun dalam waktu singkat. Negara itu dinilai konsisten menarik investasi langsung yang berorientasi ekspor, mendorong transfer teknologi, dan memperkuat basis manufaktur melalui kebijakan yang lebih terbuka terhadap kebutuhan industri.
Ia menilai Indonesia masih menghadapi persoalan berbeda karena investasi yang masuk belum seluruhnya diarahkan ke sektor bernilai tambah tinggi. Investasi di bidang jasa, perdagangan, dan pengemasan tetap penting, tetapi belum cukup untuk membangun industri yang mampu menciptakan pekerjaan produktif dalam jumlah besar serta memperluas ekspor barang olahan.
Didik juga menyoroti birokrasi yang rumit, kepastian insentif yang lemah, dan belum jelasnya arah deregulasi sebagai hambatan bagi dunia usaha. Ketika permintaan melemah dan biaya produksi meningkat, perusahaan cenderung menahan ekspansi karena tidak melihat kepastian kebijakan jangka panjang. “Dunia usaha tidak akan berinvestasi jika tidak ada kebijakan yang jelas, birokrasi masih ruwet, dan insentif tidak memadai untuk mendorong pertumbuhan industri,” ujarnya.
Kontraksi manufaktur menjadi perhatian karena sektor ini bukan hanya menyumbang pertumbuhan ekonomi, melainkan juga membuka pekerjaan formal, menggerakkan permintaan bahan baku lokal, dan menentukan kemampuan Indonesia menjual produk bernilai tambah ke pasar global. Ketika industri melemah, dampaknya dapat merembet ke kesempatan kerja, daya beli rumah tangga, hingga kemampuan ekonomi bertahan dari ketergantungan pada belanja pemerintah.
Pemerintah belum memberikan tanggapan atas kritik Didik tersebut. Namun, penurunan PMI pada Juni menjadi peringatan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak cukup hanya terlihat baik di atas kertas ketika industri pengolahan, yang seharusnya menjadi mesin penciptaan nilai tambah, masih kehilangan tenaga. (RHU)