AKARTA, AFU.ID - Tiga gempa berkekuatan di atas magnitudo 6 mengguncang Indonesia hanya dalam kurun sekitar 17 jam pada Sabtu (15/8/2026). Gempa terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan magnitudo 7,7, Simalungun di Sumatera Utara M6,4, dan Parigi Moutong di Sulawesi Tengah M6,2. Rentetan tersebut kembali menyoroti posisi Indonesia di kawasan Cincin Api Pasifik atau Ring of Fire, salah satu wilayah dengan aktivitas tektonik paling tinggi di dunia.
Gempa paling kuat terjadi di NTT sekitar pukul 04.58 WIB dengan magnitudo yang kemudian dimutakhirkan menjadi M7,7. Gempa dangkal tersebut memicu peringatan dini tsunami untuk sejumlah wilayah pesisir, dengan gelombang tertinggi sekitar 0,94 meter terdeteksi di Maurole, Ende. Peringatan dini tsunami kemudian diakhiri sekitar pukul 07.30 WIB setelah BMKG melakukan pemantauan terhadap perkembangan gelombang.
Sekitar 13 jam setelah gempa NTT, gempa M6,4 mengguncang Simalungun, Sumatera Utara, pada pukul 17.54 WIB. Beberapa jam kemudian, gempa M6,2 kembali terjadi di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, sekitar pukul 22.25 WIB. Kedua gempa tersebut tidak berpotensi tsunami, berbeda dengan gempa M7,7 di NTT yang lebih dahulu terjadi.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto menjelaskan, Cincin Api Pasifik merupakan zona berbentuk tapal kuda yang membentang sekitar 40.000 kilometer di sepanjang cekungan Samudra Pasifik. Kawasan tersebut menjadi tempat bertemunya sejumlah lempeng tektonik yang terus bergerak sehingga aktivitas gempa dan vulkanik relatif tinggi. “Jalur ini merupakan titik pertemuan berbagai lempeng tektonik dunia yang terus bergerak dan saling bertabrakan (zona subduksi),” kata Wijayanto, Minggu.
Indonesia berada pada wilayah pertemuan sejumlah lempeng tektonik besar, terutama Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik. Pergerakan lempeng-lempeng tersebut menyebabkan energi terus terakumulasi pada kerak bumi dan dapat dilepaskan dalam bentuk gempa. Kondisi ini membuat Indonesia memiliki banyak zona subduksi sekaligus sesar aktif yang tersebar di berbagai wilayah.
Posisi Indonesia di kawasan Ring of Fire menjadi salah satu faktor yang membuat aktivitas gempa relatif tinggi dibanding banyak negara lain. Namun, Cincin Api bukan satu patahan tunggal yang bekerja serentak dari Sumatera hingga Papua, melainkan kawasan sangat luas yang terdiri atas banyak batas lempeng, zona subduksi, dan sistem sesar. Karena itu, tiga gempa besar yang terjadi pada hari yang sama tidak otomatis berarti ketiganya berasal dari satu sumber atau saling memicu.
Setiap gempa harus dianalisis berdasarkan lokasi episentrum, kedalaman hiposentrum, mekanisme sumber, serta sistem sesar atau lempeng yang bekerja di wilayah tersebut. Kedekatan waktu kejadian saja tidak cukup untuk menyimpulkan adanya hubungan langsung antara gempa NTT, Simalungun, dan Parigi Moutong. Ketiganya lebih menunjukkan bahwa Indonesia memang berada di lingkungan tektonik yang sangat aktif.
Gempa M7,7 di NTT, misalnya, dikaitkan BMKG dengan aktivitas sesar naik busur belakang Flores atau Flores Back Arc Thrust. Sumber gempa di kawasan Nusa Tenggara juga tergolong kompleks karena terdapat zona subduksi di bagian selatan serta sistem sesar naik di bagian utara. Kondisi tektonik tersebut berbeda dengan sumber gempa yang ditemukan di Sumatera maupun Sulawesi.
Keberadaan Indonesia di Ring of Fire juga membuat ancaman geologi tidak terbatas pada gempa bumi. Interaksi lempeng berkaitan dengan banyaknya gunung api aktif, sementara sebagian sumber gempa berada di laut sehingga pada kondisi tertentu dapat memicu tsunami. Gempa besar dan dangkal dengan mekanisme yang mampu mengangkat atau menurunkan dasar laut menjadi salah satu kondisi yang dapat menimbulkan gelombang tsunami.
Wijayanto mengingatkan bahwa risiko gempa merupakan fakta geologis yang harus dihadapi dengan kesiapsiagaan, bukan kepanikan. Masyarakat disarankan mengenali potensi bahaya di sekitar tempat tinggal, mengetahui jalur evakuasi, memastikan struktur bangunan lebih tahan gempa, serta menyiapkan tas siaga berisi kebutuhan dasar. “Lakukan juga simulasi evakuasi bersama keluarga/lingkungan/kantor agar tidak panik saat keadaan darurat sesungguhnya terjadi,” ujarnya.
BMKG juga mengingatkan gempa bumi belum dapat diprediksi secara tepat mengenai waktu, lokasi, maupun kekuatannya sebelum kejadian. Karena itu, mitigasi menjadi langkah utama untuk mengurangi risiko korban ketika gempa kembali terjadi. Informasi kegempaan dan peringatan dini juga perlu merujuk pada kanal resmi BMKG agar masyarakat tidak terpengaruh informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. (RHU)