JAKARTA, AFU.ID – PT Perkebunan Nusantara atau PTPN I mempercepat hilirisasi teh untuk memperluas pasar ekspor, terutama ke Eropa. London, Inggris, disiapkan sebagai pintu masuk untuk mendorong produk teh premium Indonesia bersaing di pasar global. Sekretaris Perusahaan PTPN I, Aris Handoyo, mengatakan perseroan tengah menyusun langkah strategis untuk memperkuat posisi teh premium di Eropa.
Strategi itu disiapkan setelah PTPN I sebelumnya menembus pasar premium di Kanada dan Dubai. “Setelah sukses menembus pasar premium di Kanada dan Dubai, korporasi kini tengah merancang langkah strategis berikutnya untuk memperkuat posisi di Eropa,” kata Aris di Jakarta, Sabtu (27/6/2026)
Menurut Aris, PTPN I akan mengembangkan varian teh premium baru yang dirancang khusus untuk dipasarkan di London. Produk tersebut akan diperkuat melalui kolaborasi dengan sejumlah merek teh terkemuka dunia. “Ke depan fokus kami adalah mengembangkan varian produk premium baru yang dikonsepkan secara khusus untuk dipajang di store kota London,” ujarnya.
Aris mengatakan kerja sama dengan merek teh global menjadi salah satu cara untuk memperluas akses pasar sekaligus meningkatkan daya saing teh Indonesia. Melalui hilirisasi, PTPN I ingin meningkatkan nilai tambah produk agar tidak hanya bergantung pada pasar teh curah. PTPN I saat ini mengelola tanaman menghasilkan teh seluas 12,7 ribu hektare.
Hingga Mei 2026, produksi teh perusahaan tercatat mencapai 11,6 juta kilogram dengan produktivitas 912 kilogram per hektare. Dalam beberapa tahun terakhir, produksi teh kering PTPN I bergerak fluktuatif. Pada 2022, produksi tercatat 29,05 juta kilogram dengan produktivitas 1.685 kilogram per hektare. Produksi kemudian turun pada 2023 menjadi 25,97 juta kilogram dengan produktivitas 1.499 kilogram per hektare.
Pada 2024, produksi kembali naik menjadi 28,44 juta kilogram dengan produktivitas 1.651 kilogram per hektare. Pada 2025, produktivitas PTPN I meningkat menjadi 2.004 kilogram per hektare. Total produksi teh kering pada tahun itu mencapai 29,28 juta kilogram. “Catatan operasional yang impresif tersebut berbanding lurus dengan serapan pasar internasional. Sepanjang tahun lalu, PTPN I sukses mengapalkan volume ekspor hingga 8,9 juta kilogram,” kata Aris.
Pasar ekspor teh PTPN I saat ini telah menjangkau sejumlah negara. Malaysia menjadi tujuan utama, disusul Korea, Thailand, serta pasar potensial lain di Asia. Produk teh perusahaan juga telah masuk ke kawasan Timur Tengah, termasuk Dubai. Selain itu, teh PTPN I disebut sudah menembus pasar Eropa dan Amerika Serikat, termasuk Jerman dan Inggris.
Aris menyebut mutu teh PTPN I mampu bersaing dengan produsen utama dunia seperti Kenya, India, dan Sri Lanka. Ia juga mengatakan produk teh PTPN I telah dipasarkan di gerai Twinings, London, Inggris. Selain mengincar pasar premium Eropa, PTPN I juga memperkuat hilirisasi di dalam negeri. Perusahaan mengembangkan produk ritel seperti Teh Celup Walini, Goalpara, dan Gunung Mas.
PTPN I juga masuk ke produk teh siap minum atau ready to drink. Langkah itu dilakukan untuk menjangkau konsumen muda dan meningkatkan kembali minat masyarakat terhadap teh lokal. “Kedua, kami memanfaatkan media sosial secara masif untuk mengedukasi anak-anak muda tentang filosofi serta manfaat kesehatan di balik kebiasaan minum teh,” ujar Aris.
Aris menambahkan PTPN I juga mendorong produk teh premium lokal masuk ke kafe. Strategi itu diarahkan agar konsumsi teh kembali menjadi bagian dari gaya hidup generasi muda. Dengan percepatan hilirisasi tersebut, PTPN I menargetkan produk teh tidak hanya dijual sebagai komoditas curah. Perusahaan ingin memperkuat produk premium, ritel, dan siap minum untuk meningkatkan nilai tambah serta memperluas pasar ekspor, termasuk melalui etalase premium di London. (FAD)